Rio Reifan Ditangkap Lagi Terkait Sabu, Apa Sih yang Bikin Orang Kecanduan?
Artis Rio Reifan kembali ditangkap pihak kepolisian terkait dugaan penyalahgunaan narkoba. Sebelumnya, Rio sudah ditangkap tiga kali dengan kasus yang sama.
Rio ditangkap di rumahnya di Jl Otista, Jakarta Timur pada Senin (19/4/2021). Saat ditangkap, polisi menemukan barang bukti berupa narkoba jenis sabu.
"(Ditangkap) terkait sabu," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dihubungi detikcom, Selasa (20/4/2021).
Sebelumnya, Rio juga sudah tiga kali ditangkap dengan barang bukti narkoba jenis sabu. Terakhir, Rio ditangkap di kawasan Pondok Gede, Bekasi, dengan barang bukti berupa sabu seberat 0,0129 gram.
Apa sih yang bikin orang kecanduan sabu?
Sabu atau methamphetamine adalah jenis narkoba dengan efek samping yang cukup kuat. Narkoba jenis ini bisa bekerja langsung pada sistem saraf pusat dan memicu pelepasan senyawa dopamin.
Sabu juga disebut-sebut sebagai salah satu jenis narkoba yang paling populer disalahgunakan di dunia. Menurut dr Nicole Lee dari National Drug Research Institute, Australia, sabu bisa populer karena memiliki efek kuat dalam memicu rasa positif seperti senang, bersemangat, dan percaya diri.
"Kalau kamu menghisap sabu kamu bisa langsung high, dalam hitungan menit kamu sudah sangat high. Sementara kalau ditelan paling efeknya baru akan terasa 20 menit kemudian," kata dr Nicole seperti dikutip dari ABC Australia.
Beberapa ahli juga menyebut, sabu bisa sangat populer karena dengan saat menggunakannya bisa meningkatkan hormon dopamin di otak 1.000 persen lebih tinggi dari normal. Hal itu yang membuat sabu di cap sebagai narkoba yang paling efektif.
Jika sekali mencoba dan merasakan efeknya, si pemakai akan cepat sekali merasa kecanduan. Namun, makin lama terjadi toleransi yang artinya dosis sabu yang dibutuhkan semakin tinggi dan bisa merusak sistem saraf pusat.
https://indomovie28.net/movies/taxi-3-2/
Tren Viral Sujud 'Freestyle' Rawan Picu Dislokasi Sendi, Ini Alasannya
Tren sujud 'freestyle' tengah viral di media sosial. Banyak dilakukan oleh anak-anak yakni dengan pose handstand seperti salah satu emoji di game Free Fire.
Pose ini terbilang ekstrem, sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan tanpa latihan dan teknik yang benar. Salah tumpuan bisa menyebabkan patah tulang maupun dislokasi sendi, apalagi pada anak-anak.
Menurut dr Bobby Nelwan SpOT(K-Sport), dokter ortopedi dari Royal Sport Medicine Centre, anak-anak cenderung memiliki tulang yang tipis dibanding usia dewasa. Apalagi jika mereka tidak terbiasa melakukan aksi tersebut.
"Pada anak-anak tulangnya relatif tipis, lebih kecil dibandingkan pada orang dewasa sehingga pada anak-anak lebih mudah patah dibandingkan orang dewasa," jelas dr Bobby saat dihubungi detikcom Selasa (20/4/2021).
Dihubungi terpisah, Prof Dr dr Achmad Fauzi Kamal SpOT menjelaskan, apapun aktivitasnya, risiko patah tulang yang tetap tinggi jika aksi yang mereka lakukan tidak terlatih. Mengapa begitu?
"Tidak terlatih, terus terjadi secara mendadak pembebanan itu maka gaya elastisitas tulang atau kekuatan tulang dalam menahan beban itu akan sulit sehingga dia mudah patah," bebernya.
Menurutnya, risiko patah tulang bukan hanya menimpa lengan atau pergelangan tangan. Jika keduanya sudah tak mampu lagi menopang beban, rawan terjadi patah di tulang area bahu atau selangka.
"Pada lengan atas pertama kali biasanya beban itu akan diterima oleh tangan atau jari, kalau tangan itu pembebanan, maka akan diteruskan ke lengan bawah, jika tidak mampu menahan beban, maka yang akan patah itu sekitar lengan bawah," katanya.
"Jika lengan bawah tidak kuat menahan beban, maka lengan atas di sekitar siku akan patah di situ, karena tulangnya pipih, tipis di situ, kalau tulang di situ tidak mampu menahan beban, akan diteruskan ke daerah bahu, tulang selangka, maka dia akan patah di situ," pungkasnya.
Komentar
Posting Komentar