Lelang Frekuensi 2,3 GHz: Siapa Menang, Telkomsel, Smartfren atau XL Axiata?
Persaingan memperebutkan blok kosong di lelang frekuensi 2,3 GHz tinggal menyisakan tiga operator seluler saja. Siapa yang bakal borong, Smartfren, Telkomsel, atau XL Axiata?
Setelah mengumumkan membuka kembali lelang frekuensi 2,3 GHz, tercatat Telkomsel, Indosat Ooredoo, Smartfren, Hutchison 3 Indonesia (Tri), dan XL Axiata mengambil dokumen seleksi pada Rabu (17/3) lalu.
Namun, hanya Smartfren, Telkomsel, dan XL Axiata yang menyerahkan dokumen permohonan seleksi lelang frekuensi dan ketiga operator seluler tersebut lulus evaluasi administrasi. Selanjutnya mereka akan bertarung untuk memperebutkan tiga blok kosong di frekuensi 2,3 GHz.
Berbeda dengan lelang frekuensi 2,3 GHz tahun 2020 yang dibatalkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), di edisi kali ini tender tersebut memungkinkan peserta lelang memborong semua blok kosong di rentang 2360-2390 MHz.
"Saya duga semua berambisi untuk menguasai 30 MHz ini, terutama Telkomsel dan Smartfren, supaya bisa gelar 5G di beberapa tempat pilihan," ujar Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Muhammad Ridwan Effendi kepada detikINET.
Kendati begitu, Ridwan melihat, XL Axiata juga tidak akan begitu saja melepaskan persaingan di lelang frekuensi 2,3 GHz.
"XL Axiata masih perlu tambahan spektrum untuk memperbaiki kualitas layanan. Semuanya nampaknya akan mati-matian nih berebut (blok kosong) di frekuensi 2,3 GHz, terutama yang sudah punya di situ duluan," kata mantan Komisioner BRTI ini.
Sesuai ketentuan angka 4.8.3 dalam dokumen Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021 maka peserta seleksi yang lulus tahapan evaluasi administrasi akan mengikuti tahapan selanjutnya, yaitu tahapan lelang harga blok kosong di frekuensi 2,3 GHz tersebut.
Kominfo mengatakan, tahapan lelang harga dimaksud akan dimulai pada hari Senin tanggal 19 April 2021.
Sebagaimana diketahui, pada pertengahan Maret lalu, Kominfo membuka lelang frekuensi 2,3 GHz untuk untuk mengoptimalkan potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) khususnya dari Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio. Selain itu, tujuan strategisnya adalah mendorong 4G dan 5G.
"Mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur jaringan bergerak seluler dengan teknologi generasi keempat (4G/LTE) dan jika memungkinkan juga terimplementasikannya teknologi generasi kelima (5G/IMT- 2020)," kata Kominfo.
Seleksi ini terbuka untuk semua operator. Objek Seleksi pada pita frekuensi radio 2,3 GHz terdiri atas 3 blok pita frekuensi radio di dalam rentang 2.360-2.390 MHz dengan lebar pita masing-masing blok adalah 10 MHz. Peserta seleksi bisa menawar 1-3 blok yang diminati
https://trimay98.com/movies/honest-candidate/
Pasang Chip di Otak Monyet, Elon Musk Dihujani Kritik
Belum lama ini startup Neuralink yang didirikan Elon Musk memamerkan seekor monyet yang dipasangi chip di otaknya dan bisa memainkan game dengan kekuatan pikiran. Tapi demonstrasi itu disambut dengan kritikan dari ilmuwan dan pakar etika teknologi.
Beberapa orang mengatakan eksperimen seperti ini tidak begitu revolusioner karena teknologi serupa sudah ada selama dua dekade terakhir.
Salah satu eksperimen yang bisa menjadi perbandingan adalah demonstrasi yang dilakukan sekelompok ilmuwan pada tahun 2002 di mana mereka berhasil membuat seekor monyet menggerakkan kursor di layar komputer hanya dengan kekuatan pikiran, mirip seperti yang ditampilkan oleh Neuralink.
Sama seperti percobaan hampir dua dekade sebelumnya, Musk membayangkan chip yang ditanam di otak ini bisa membantu orang dengan gangguan syaraf bisa mengontrol hidupnya dengan lebih mudah.
Musk juga mengklaim teknologi ini nantinya bisa menyatukan otak manusia dengan kecerdasan buatan atau AI. Klaim inilah yang dikhawatirkan oleh pakar etika teknologi.
"Yang menjadi kekhawatiran saya adalah klaim yang berpotensi salah," kata dosen etika kedokteran dan kebijakan kesehatan di University of Pennsylvania Anna Wexler, seperti dikutip dari Observer, Minggu (18/4/2021).
Komentar
Posting Komentar