Ditinjau Awal Mei, Sinovac Jadi Vaksin Berikutnya yang Dapat Izin WHO?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dijadwalkan akan segera melakukan peninjauan terhadap dua jenis vaksin Corona dari China, yaitu buatan Sinopharm dan Sinovac. Bila lolos, maka keduanya akan mendapat izin masuk ke dalam Emergency Use Listing (EUL).
Sejauh ini baru ada tiga jenis vaksin Corona yang memiliki status EUL. Vaksin pertama adalah yang dikembangkan oleh Pfizer, berikutnya AstraZeneca, dan paling terbaru Johnson & Johnson.
Vaksin Sinopharm rencananya akan ditinjau pada 26 April, sementara vaksin Sinovac di 3 Mei 2021.
"Kami akan mengeluarkan keputusan beberapa hari kemudian," kata WHO seperti dikutip dari Reuters, Jumat (23/4/2021).
Vaksin yang mendapat status EUL secara sederhana bisa dianggap sudah memenuhi standar keamanan dan efektivitas internasional. Harapannya regulator obat negara-negara bisa jadi lebih mudah mengeluarkan izin penggunaan vaksin tersebut dengan mengacu pedoman yang diterbitkan WHO.
Di Indonesia status EUL vaksin Sinovac juga bisa jadi kabar baik. Ini karena vaksin artinya akan memenuhi syarat sebagai vaksin yang diwajibkan untuk calon jemaah umroh dan haji.
https://movieon28.com/movies/easy-money/
Atta Halilintar Positif Corona dengan CT Value 30, Ini Artinya..
Setelah beberapa waktu lalu terinfeksi COVID-19, YouTuber Atta Halilintar positif Corona untuk kedua kalinya. Hal ini disampaikannya melalui postingan di akun Instagram miliknya.
Atta pun terus memberikan kabar terbaru seputar kondisinya saat ini. Lewat Instagram Story, ia mengatakan bahwa CT Value miliknya berada di angka 30-an dan tidak mengalami gejala apapun.
"Hari ini CT ku 30 an dan aku tanpa gejala... Semoga cepet sembuh ga turun CT-nya," tulis Atta.
Apa itu CT Value?
Menurut pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo, angka CT Value ini diketahui untuk menunjukkan banyak atau tidaknya jumlah virus yang ada di dalam tubuh. Semakin tinggi angkanya, biasanya semakin sedikit jumlah virus di tubuh.
Namun, Ahmad mengingatkan untuk tidak menyimpulkan angka CT Value sendiri. Sebab, banyak perhitungan yang perlu dipertimbangkan untuk mendiagnosis seseorang sembuh dari COVID-19.
"Interpretasi keseluruhan itu harus dokter, yang menyimpulkan. Nanti kan dites gejala ada apa nggak, dicek riwayatnya, dia kapan dites, kenapa dites, oh misalnya pernah kontak erat, kontak eratnya kapan, nanti kesimpulannya itu lebih menyeluruh," tegas Ahmad pada detikcom.
Hal serupa juga disampaikan oleh dokter mikrobiologi klinis dari Intibios Lab dr Enty, SpMK. Ia menegaskan bahwa pasien COVID-19 dengan CT Value yang tinggi bukan berarti sudah bebas dari Corona.
Potensi penularan COVID-19 dari pasien dengan CT Value tinggi pun sebenarnya masih ada.
"Batasan tinggi itu berapa? Hari ke berapa pemeriksaan dari onset gejala tentu menjadi pertimbangan dalam interpretasi," tutur dr Enty dalam wawancara terpisah.
Berapa angka CT Value yang umum menentukan jumlah virus sudah rendah atau masih tinggi?
"Jadi kalau pasien punya CT Value di bawah 25, katakan 11 atau 20, 17, 22, itu kita bisa estimasi kayaknya kamu punya banyak virus di tubuh kamu," jelas Ahmad.
Jika CT Value semakin besar dan sudah di atas 35, Ahmad menilai umumnya jumlah virus yang ada sudah sedikit.
"Kalau CT Value sudah di atas 35, itu berarti sudah sedikit banget atau jangan-jangan virusnya sudah mati, tinggal bangkainya saja. Bagaimana dengan 27? Iya 27 itu borderline lah," jelas Ahmad sembari menekankan pentingnya interpretasi menyeluruh dari dokter.
Komentar
Posting Komentar