Anak Nia Ramadhani Positif COVID-19, Bedakah Gejala Corona pada Anak?
Anak kedua dari Nia Ramadhani, Mainaka, positif COVID-19. Hal ini diketahui Nia setelah hasil swab PCR milik Mainaka keluar.
"Mainaka (terpapar COVID-19)," kata asisten Nia Ramadhani Theresa Wienathan melalui pesan singkat.
Saat seseorang terinfeksi virus Corona, beragam gejala bisa muncul. Mulai dari yang tidak bergejala (OTG), gejala ringan, hingga berat.
Namun, studi REACT yang dilakukan Imperial College London mengungkapkan bahwa ada perbedaan gejala COVID-19 yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, gejala COVID-19 pada anak cenderung lebih ringan daripada yang dewasa, yang terdiri dari kelelahan, sakit kepala, dan demam.
Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), ada beberapa gejala awal COVID-19 yang serupa antara pasien anak-anak dan dewasa. Gejalanya seperti pilek, radang tenggorokan, alergi, atau kedinginan.
Dikutip The Financial Express, gejala COVID-19 kedinginan hampir dialami oleh setiap usia. Sementara pada usia 5-17 tahun, mereka lebih sering mengeluhkan sakit kepala.
Selain itu, kehilangan nafsu makan banyak dilaporkan terjadi pada kelompok usia 18-55 tahun. Nyeri otot juga banyak terjadi pada orang yang berusia antara 18-55 tahun.
Tetapi, pada anak usia 5-17 tahun yang terinfeksi lebih kecil kemungkinannya mengalami demam, batuk terus-menerus, dan kehilangan nafsu makan, jika dibandingkan dengan orang dewasa.
https://indomovie28.net/movies/wild-city/
Awas! Viral Tren Sujud 'Freestyle', Dokter Ungkap Bahayanya
Baru-baru ini tren melakukan 'handstand' saat sujud sewaktu salat viral di media sosial, banyak diikuti anak-anak. Beberapa orang mengaitkannya dengan salah satu emote di game populer yang diperagakan salah satu karakter saat melakukan selebrasi kemenangan.
Menurut dr Bobby Nelwan SpOT(K-Sport), dokter ortopedi dari Royal Sport Medicine Centre, aksi ini tentu berisiko tinggi menyebabkan anak patah tulang. Pasalnya, kondisi tulang anak belum 'sekokoh' usia dewasa muda.
Terlebih, aksi handstand juga membuat tulang leher harus menopang beban tubuh. Ada risiko tulang leher akhirnya patah dan bisa memicu kondisi fatal.
"Ada perbedaan kondisi tulang pada anak-anak dan dewasa termasuk itu potensi patah dan lepas sendi atau dislokasi. Pada anak-anak tulangnya relatif tipis, lebih kecil dibandingkan pada orang dewasa sehingga pada anak-anak lebih mudah patah dibandingkan orang dewasa," jelas dr Bobby saat dihubungi detikcom Selasa (20/4/2021).
Ia juga menyebut, aksi handstand sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh atlet atau orang yang sudah terlatih dan terbiasa melakukannya. Jika anak mengalami patah tulang, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin.
Hal yang sama diutarakan ahli ortopedi dan bedah tangan dari RS Fatmawati dr Oryza SpOT (K). Handstand berisiko memicu patah tulang jika dilakukan dengan teknik yang tidak benar.
"Handstand seperti itu Lazim pada gerakan-gerakan breakdance. beresiko jika tidak mengerti dan dilakukan dengan teknik yang benar. Jika terkilir dan atau terjatuh bisa memicu patah tulang," jelas dr Oryza saat dihubungi detikcom Selasa (20/4/2021).
"Yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan terutama pergelangan tangan, penempatan kepala dan leher, dan keseimbangan," lanjutnya.
Menurutnya, berdasarkan literatur yang ada, kasus patah tulang memang banyak ditemukan pada pergelangan tangan.
Komentar
Posting Komentar