Obesitas Pengaruhi Respons Imun, Vaksin Corona Mempan Nggak?

 Obesitas menjadi tantangan di tengah pandemi COVID-19. Pasalnya, pengidap obesitas rentan mengalami penyakit komorbid. Masalah lainnya, vaksin Corona dikhawatirkan tak mempan membangun imunitas pada pengidap obesitas.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr Dicky L. Tahapary, SpPD-KEMD, PhD menyebut, obesitas meningkatkan risiko gejala berat hingga kematian akibat COVID-19.


"Di lain sisi, pandemi COVID-19 bisa meningkatkan risiko obesitas karena orang banyak tinggal di rumah, banyak makan, jarang ada aktivitas fisik," ujarnya dalam webinar oleh Kementerian Kesehatan, Rabu (24/3/2021).


Pengidap obesitas dikhawatirkan mengalami masalah inflamasi dan gangguan imunitas. Meski vaksinasi Corona kini tengah digencarkan, dr Dikcy khawatir vaksin ini tak seratus efektif membangun imunitas pada pengidap obesitas.


"Yang dikhawatirkan adalah ketidakefektifan vaksin karena ada gangguan respon imun. Beberapa studi mengatakan bahwa pada pasien obesitas, respon imun setelah diberikan vaksin tidak sebaik pada orang yang tidak obesitas," terangnya lebih lanjut pada detikcom.


Meski begitu dr Dicky menyebut, penyuntikan vaksin COVID-19 untuk pengidap obesitas sebaiknya tetap dijalankan. Pasalnya menurut rekomendasi, pengidap penyakit komorbid pun diperbolehkan menerima vaksin Corona, selama ada upaya kontrol atau surat keterangan layak divaksin dari dokter.


"Walaupun tidak sebaik pasien non obes, proteksi terhadap flu itu cukup baik. Jadi, lebih bagus tetap diberikan vaksinasi," ujarnya.


Memang demi keamanan, terdapat catatan khusus untuk para pengidap penyakit komorbid yang hendak disuntik vaksin Corona.


Namun menurut dr Dicky, vaksinasi COVID-19 untuk pengidap obesitas sebaiknya diprioritaskan karena mereka rentan terhadap COVID-19 berkepanjangan, bahkan kematian.


"Justru prioritas diberikan vaksin. Dengan catatan, komorbiditas bisa dikendalikan oleh dokter penyakit dalam," pungkasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/plastic-sex/


Hari TB Sedunia, Wapres Ma'ruf Amin Dorong Suspek COVID-19 Juga Dites TB


Memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia, Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin ingin upaya pelacakan kasus di Indonesia ditingkatkan. Caranya dengan memperbanyak pemeriksaan orang-orang yang bergejala.

Indonesia diketahui sampai saat ini masih menjadi negara ketiga dengan kasus TB terbanyak di dunia. Dikutip dari data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2018 ada sekitar 845.000 orang yang sakit TB dengan 93.000 di antaranya meninggal dunia.


"Sumber daya saat ini terkuras untuk mengatasi pandemi COVID-19. Menyebabkan kapasitas mengatasi TB menjadi jauh berkurang," kata Ma'Aruf Amin saat memberikan sambutan peringatan Hari TB Sedunia yang disiarkan daring di Youtube Kementerian Kesehatan RI, Rabu (24/3/2021).


Ma'Aruf Amin menyebut di tengah situasi pandemi COVID-19, orang-orang yang menunjukkan gejala batuk-batuk juga harus menjalani pemeriksaan TB. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan pelacakan karena gejala COVID-19 dengan TB sekilas bisa mirip.


"Tracing COVID-19 dengan gejala mirip TB seperti batuk juga harus dilanjutkan... Lakukan testing TB meski hasil testing COVID-19 negatif," ungkap Ma'Aruf.


"Tingkatkan intensitas penjangkauan ke masyarakat atau reaching out untuk menemukan pasien tuberkulosis dan memastikannya masuk ke dalam sistem pengobatan tuberkulosis melalui layanan kesehatan yang tersedia," lanjutnya.

https://cinemamovie28.com/movies/cafe-society-3/

Komentar

Postingan Populer