Interval Vaksin Jadi 28 Hari, Target Setahun Vaksinasi RI Diragukan
Masa interval vaksin Sinovac diperpanjang menjadi 28 hari. Sebelumnya, penetapan pemberian dosis kedua selama 28 hari hanya berlaku bagi lansia, sementara usia dewasa 18-59 tahun 14 hari.
Perubahan masa interval vaksin Sinovac tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/I/653/2021 terkait Optimalisasi Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19.
"Penambahan alternatif interval penyuntikan dosis pertama dan kedua yaitu 28 hari untuk populasi dewasa (18-59 tahun). Alternatif ini dapat dipilih dalam pelaksanaan kegiatan vaksinasi yang menyasar populasi dewasa maupun lansia secara bersamaan," demikian dikutip dari surat edar Kemenkes yang ditandatangani Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, 15 Maret lalu.
Menanggapi hal ini, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengimbau agar pemerintah mulai merevisi target vaksinasi seiring dengan perubahan masa interval vaksin Sinovac.
"Pemerintah pusat atau daerah merevisi perencanaannya, disesuaikan kan, sekarang dengan jarak sekian (interval vaksin 28 hari) bagaimana peta jalan vaksinasinya," kata Dicky saat dihubungi detikcom Rabu (24/3/2021).
"Peta jalannya direvisi, termasuk kan peta jalannya sekarang kan sudah ada AstraZeneca dan juga rencana vaksin gotong royong. Itu yang tentu kita harus lihat lagi hasil revisi pemerintah ini gimana," bebernya.
Meski begitu, Dicky menyebut perubahan masa interval vaksin bukan berarti tak berdasar. Berdasarkan uji klinis Sinovac termasuk di Turki, rentang waktu pemberian dosis kedua lebih lama memang memicu perlindungan diri lebih baik.
Lebih lanjut, ia pun menyoroti target vaksinasi COVID-19 Indonesia di satu tahun tampak terlalu ambisius. Menurut Dicky, perhitungan realistisnya selesai di dua hingga tiga tahun.
"Jelas dari sebelum adanya interval vaksin 28 hari ini pun satu tahun itu terlalu ambisius sebetulnya, target kita satu tahun itu, karena apa? supply yang belum ada jaminan, belum juga masalah tantangan, baik secara geografis, SDM kita," jelas Dicky.
"Termasuk ada sebagian yang masih ragu-ragu atau bahkan belum mau divaksinasi ini kan artinya satu tahun itu terlalu ambisius," lanjutnya.
https://indomovie28.net/movies/plastic-sex/
Obesitas Pengaruhi Respons Imun, Vaksin Corona Mempan Nggak?
Obesitas menjadi tantangan di tengah pandemi COVID-19. Pasalnya, pengidap obesitas rentan mengalami penyakit komorbid. Masalah lainnya, vaksin Corona dikhawatirkan tak mempan membangun imunitas pada pengidap obesitas.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr Dicky L. Tahapary, SpPD-KEMD, PhD menyebut, obesitas meningkatkan risiko gejala berat hingga kematian akibat COVID-19.
"Di lain sisi, pandemi COVID-19 bisa meningkatkan risiko obesitas karena orang banyak tinggal di rumah, banyak makan, jarang ada aktivitas fisik," ujarnya dalam webinar oleh Kementerian Kesehatan, Rabu (24/3/2021).
Pengidap obesitas dikhawatirkan mengalami masalah inflamasi dan gangguan imunitas. Meski vaksinasi Corona kini tengah digencarkan, dr Dikcy khawatir vaksin ini tak seratus efektif membangun imunitas pada pengidap obesitas.
"Yang dikhawatirkan adalah ketidakefektifan vaksin karena ada gangguan respon imun. Beberapa studi mengatakan bahwa pada pasien obesitas, respon imun setelah diberikan vaksin tidak sebaik pada orang yang tidak obesitas," terangnya lebih lanjut pada detikcom.
Meski begitu dr Dicky menyebut, penyuntikan vaksin COVID-19 untuk pengidap obesitas sebaiknya tetap dijalankan. Pasalnya menurut rekomendasi, pengidap penyakit komorbid pun diperbolehkan menerima vaksin Corona, selama ada upaya kontrol atau surat keterangan layak divaksin dari dokter.
"Walaupun tidak sebaik pasien non obes, proteksi terhadap flu itu cukup baik. Jadi, lebih bagus tetap diberikan vaksinasi," ujarnya.
Memang demi keamanan, terdapat catatan khusus untuk para pengidap penyakit komorbid yang hendak disuntik vaksin Corona.
Namun menurut dr Dicky, vaksinasi COVID-19 untuk pengidap obesitas sebaiknya diprioritaskan karena mereka rentan terhadap COVID-19 berkepanjangan, bahkan kematian.
"Justru prioritas diberikan vaksin. Dengan catatan, komorbiditas bisa dikendalikan oleh dokter penyakit dalam," pungkasnya.
Komentar
Posting Komentar