25 Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Asia, Orang RI Masuk Lho!

Forbes kembali merilis daftar 25 pebisnis wanita paling berpengaruh di Asia. Para wanita berpengaruh itu dinilai mampu menghadapi tekanan pandemi virus Corona (COVID-19) selama memimpin bisnisnya.
Mulai dari pebisnis di sektor bioteknologi, fintech, edtech, ritel, logistik, dan hukum. Masing-masing memiliki rekam jejak kesuksesan baik mencetak pendapatan perusahaan yang besar atau mendirikan perusahaan rintisan senilai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,84 triliun (kurs Rp 14.842).

Kesamaan yang dimiliki para wanita ini adalah kepemimpinan yang tangguh dan visi untuk beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru atau new normal. Para wanita ini juga dinilai dapat melihat peluang, sementara orang lain hanya melihat tantangan.

Dari daftar tersebut, ada 2 pebisnis wanita asal Indonesia yang dipilih Forbes. Pertama yakni Presiden Direktur Prodia Widyahusada Dewi Muliaty. Dilansir Forbes, Selasa (15/9/2020), Dewi Muliaty belajar untuk memperoleh izin praktik apoteker pada tahun 1988. Kala itu, profesornya yang juga pendiri Prodia atau laboratorium klinis terbesar di Indonesia mempekerjakannya sebagai asisten manajer.

Dua dekade kemudian, ia menjadi Presiden Direktur Prodia dan mendorong ekspansi nasional. Melalui jerih parahnya, jumlah klinik Prodia dari hanya 107 unit pada tahun 2010, kini telah mencapai 285.

Dewi juga meningkatkan kapasitas pengujian untuk penyakit autoimun dan penyakit lainnya yang menyumbang hampir 1/5 dari pendapatan tahun 2019.

Pada semester I-2020 ini, Prodia mengalami penurunan penjualan sebesar 18% atau hanya Rp 657 miliar. Namun, dengan cepat Dewi memperbaiki kinerja perusahaan dengan menawarkan layanan tes COVID-19 di klinik, drive thru, maupun panggilan ke rumah-rumah.

Pebisnis sukses wanita asal Indonesia kedua yang masuk daftar Forbes adalah Co-founder & COO Nusa Satu Inti Artha Nabilah Alsagoff. Perusahaannya itu adalah penemu aplikasi e-wallet Doku. Ia mendirikan Doku bersama temannya. Awalnya, inisiatif itu datang ketika Nabilah sedang berkunjung ke Bali. Ketika ia mendatangi bank daerah, transaksi onlinenya tak bisa diakses oleh bank tersebut.

Insiden itu menginspirasinya membuat e-wallet Doku yang merupakan pelopor transaksi nontunai di Tanah Air. Pada tahun 2016, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) membeli saham mayoritas Nusa Satu, tapi Nabilah tetap menjabat sebagai COO.

Pada tahun 2019, Doku telah menangani transaksi hingga Rp 63 triliun, atau lebih tinggi 50% dari tahun 2018. Di tahun 2020 ini, transaksi juga kian melonjak dengan maraknya aktivitas dari rumah selama pandemi. Doku kini juga dikembangkan menjadi konsultan untuk berbagai bisnis online.

Lalu, pebisnis wanita lainnya yang masuk daftar Forbes adalah Kepala Pusat Layanan IT dari HCL Technologies Roshni Nadar Malhotra asal India. Ia telah bekerja di perusahaan telekomunikasi multi-nasional India itu selama 12 tahun.

Ia masuk sebagai wanita berpengaruh yang sukses menghadapi tekanan pandemi Corona pada kinerja perusahaan. Roshni selalu optimistis dalam jangka panjang, karena proses digitalisasi akan menciptakan permintaan terhadap layanan dan produk yang ditawarkan oleh HCL.

Selain Roshni, pebisnis berpengaruh lainnya adalah Co-founder Canva Melanie Perkins asal Australia. Perusahaan teknologi memang sedang naik daun selama pandemi ini.

Pengusaha Teknologi Naik Daun

Daftar tahun ini juga merayakan pengusaha wanita yang membangun perusahaan rintisan teknologi, masing-masing menarik dana ratusan juta dolar, dan bernilai lebih dari $ 1 miliar.

Namun, Canva bukanlah perusahaan yang baru saja didirikannya. Ia yang kini berusia 33 tahun, telah mendirikan Canva saat masih menjadi mahasiswa di University of Western Australia. Sejak itu, Canva yang merupakan aplikasi layanan desain gratis telah mengumpulkan dana hingga US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,45 triliun, dengan putaran terakhir pada bulan Juni senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 89 triliun.

Canva telah meraup untung sejak pertengahan 2017, dan sudah bersaing dengan Adobe. Canva kini memiliki lebih dari 700 karyawan dan lebih dari 30 juta pengguna aktif bulanan di 190 negara.

Pebisnis wanita berpengaruh di Asia lainnya juga datang dari perusahaan teknologi, yaitu Co-founder & Presiden Airwallex Lucy Yueting Liu asal Hong Kong. Airwallex merupakan startup fintech yang mencatatkan nilai perusahaan hingga US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.

Airwallex membantu pelanggan melakukan transaksi lintas mata uang lebih murah daripada bank. Airwallex kini memiliki 440 pegawai di kantor yang tersebar di berbagai kota di dunia mulai dari Bangalore hingga Tokyo.
https://indomovie28.net/lazer-team/

Komentar

Postingan Populer