Soal Pemberian Vaksin Corona, Menkes Terawan Khawatir Chaos

- Vaksin Corona kini tengah dikembangkan di seluruh dunia. Uji klinis beberapa vaksin termasuk yang dilakukan di Indonesia rencananya akan siap di awal tahun 2021.
Namun, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto khawatir pemberian imunisasi COVID-19 nantinya akan chaos. Menurut Terawan hal ini berkaitan dengan prioritas siapa yang akan disuntik terlebih dahulu.

"Bayangin kita misalnya hanya mau merencanakan, kebetulan baru ada 25 juta atau 20 juta. Itu kan berarti rakyat kita berapa juta, siapa yang harus didahulukan, apa alasannya dan sebagainya harus kami bisa membuat reason yang tepat benar agar tidak chaos," kata Terawan dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (27/8/2020), dikutip dari CNBC Indonesia.

Menkes Terawan menjelaskan perlu perencanaan yang matang terkait pemberian vaksin Corona di Indonesia. Termasuk beberapa aspek mengenai masa khasiat dan daya tahan vaksin tersebut.

"Dan berapa juta per hari bisa kita lakukan itu harus diukur, kami harus detail, karena juga menyangkut impact politik, karena tidak bisa semua dalam sehari divaksinasi," lanjutnya.

"Vaksin disuntikkan apakah sekali setiap 6 bulan, atau setahun, atau berapa. Jadi informasinya ini tahan antara 6 bulan sampai 2 tahun, jadi apakah 6 bulan atau 2 tahun kami belum clear," ungkapnya.

"Jadi kalau 6 bulan seperti yang dikatakan, ya berarti tiap 6 bulan disuntik. Kalau 2 tahun ya berarti tiap 2 tahun disuntik. Kalau 1 tahun berarti setahun sekali disuntik," kata Terawan.

Pertimbangan lain yang juga disorot Terawan adalah anggaran penyuntikan. Seberapa sering penyuntikan harus dilakukan tentu bisa berdampak pada anggaran yang perlu disiapkan.

"Ini juga akan menimbulkan impact-nya ke penganggaran. Karena itu akan kami bicarakan detail. Ini kan belum final, nanti setelah satgas resmi kami akan diskusi intens. Dan Kemenkes pasti akan berikan masukan-masukan yang rasional untuk terutama pengalaman dalam program vaksinasi," urainya.

Pandemi Corona Bisa Bikin Orang Makin Sulit Berhenti Merokok

- Merokok merupakan kebiasaan buruk karena dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Apalagi di masa pandemi virus Corona COVID-19, kebiasaan merokok disebut dapat membuat seseorang jadi lebih rentan terhadap gejala infeksi yang parah.
Hanya saja menurut dokter spesialis paru dr Feni Fitriani Taufik, SpP(K), dari RSUP Persahabatan, saat ini tantangannya mungkin lebih sulit bagi yang ingin berhenti merokok. Pandemi bisa membuat stres meningkat sehingga orang-orang semakin kuat terdorong untuk merokok.

Bahkan orang-orang yang tadinya sudah berhasil berhenti, karena pandemi bisa saja kembali jadi perokok.

"Stay home dan kadang ada juga yang terganggu pekerjaannya, harus berhenti dari pekerjaan, itu juga suatu stres tersendiri. Seperti buah simalakama yang bisa jadi dari tadinya enggak merokok dia akan kembali ke kebiasaan merokoknya atau malah lebih banyak," kata dr Feni dalam talk show yang disiarkan BNPB pada Jumat (28/8/2020).

"Karena kita tahu faktor dari rokok itu ada release dopamin yang bisa membuat orang merasa seolah-olah lebih tenang," lanjutnya.

dr Feni menyarankan agar orang-orang mencari cara lain yang lebih sehat untuk meningkatkan dopamin di tubuh. Bisa dengan berolahraga atau melakukan hobi.
https://nonton08.com/the-magic-kids-three-unlikely-heroes/

Komentar

Postingan Populer