Seks Oral Ternyata Bisa Bikin Miss V Berbau Tak Sedap

 Vaginosis bakterialis (VB) atau bacterial vaginosis adalah infeksi yang umum terjadi pada vagina. Kondisi ini biasanya tidak serius, namun tetap harus diobati karena dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap bentuk infeksi lain.
Seorang wanita yang memiliki VB bisa memperhatikan gejala dari perubahan cairan vagina. Misalnya cairan menjadi lebih kental atau encer, kekuningan, hingga berbau tidak sedap.

Terkait hal tersebut, peneliti dari University of California dalam studinya menjelaskan kemungkinan bagaimana seks oral terhadap VB berhubungan.

Menurut pemimpin studi, Dr Amanda Lewis, bakteri yang ada di mulut ternyata bisa mendorong berkembangnya bakteri penyebab VB di vagina. Hal ini diketahui setelah peneliti melakukan eksperimen dengan bakteri Fusobacterium nucleatum yang biasa ada di mulut dan berkaitan dengan penyakit gusi serta plak gigi.

"Spekulasi studi adalah bakteri ini bisa berpindah ke vagina lewat seks oral. Sesuai dengan studi klinis lainnya yang telah mengidentifikasi seks oral sebagai faktor risiko VB," tulis peneliti seperti dikutip dari jurnal PLoS Biology.

Dikutip dari BBC, VB bisa diatasi dengan obat antibiotik berbentuk krim, gel, atau tablet.

Happy Hypoxia pada Pasien COVID-19: Gejala, Penyebab, dan Pengertian

 Riset terkait COVID-19 menunjukkan kondisi yang disebut happy hypoxia atau silent hypoxemia pada pasien. Pengertian happy hypoxia adalah kondisi yang mengancam nyawa akibat kadar oksigen yang sangat rendah, namun pasien tidak menunjukkan kesulitan bernapas atau dyspnea.
Menurut Martin J Tobin seorang profesor dari Loyola University Chicago Stritch School of Medicine, happy hypoxia sangat membingungkan dokter karena bertentangan dengan biologi dasar. Tulisan dan riset Dr Tobin berjudul Why COVID-19 Silent Hypoxemia is Baffling to Physicians dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

"Dalam beberapa kasus, pasien merasa nyaman dan menggunakan telepon saat dokter hendak memasukkan selang pernapasan (endotracheal) dan menghubungkannya dengan ventilator mekanis. Tahap ini bisa menyelamatkan nyawa pasien meski punya risikonya sendiri," kata Dr Tobin yang merupakan pimpinan dalam riset terkait happy hypoxia dikutip dari ScienceDaily.

Riset melibatkan 16 pasien dengan kadar oksigen sangat rendah hingga 50 persen tanpa sesak napas. Tingkat saturasi oksigen normal dalam darah adalah 95-100 persen. Level kadar oksigen dalam tubuh diperiksa lebih dulu dengan pulse oximeter, hasilnya semua kasus pasien terkait dengan happy hypoxia atau silent hypoxemia.

Studi juga mendapati lebih dari separuh pasien memiliki kadar kanbondioksida yang rendah di dalam tubuhnya. Hal inilah yang mungkin mengurangi dampak kadar oksigen yang sangat rendah pada pasien. Selain itu, riset mengetahui bagaimana otak merespon kadar oksigen yang rendah dalam tubuh.

"Tingkat oksigen pada pasien COVID-19 terus menurun hingga mendapat penanganan medis. Seiring level oksigen yang makin turun, otak tidak juga merespon hingga benar-benar rendah. Pada kondisi tersebut biasanya pasien mengalami sesak napas," kata Dr Tobin.

Menurut Dr Tobin diperlukan riset lebih lanjut terkait happy hypoxia pada pasien COVID-19. Sebelum happy hypoxia, virus corona diketahui mempengaruhi fungsi penciuman pada manusia. Seperti pada penurunan fungsi kemampuan mengenali aroma, mekanisme serupa mungkin terjadi pada penurunan kadar oksigen pada tubuh.

"Mungkin virus corona melakukan tindakan aneh terkait bagaimana tubuh merasakan kadar oksigen dalam tubuh yang makin rendah," ujar Dr Tobin.

Dr Tobin berharap, riset ini menjadi sumber informasi baru terkait penanganan pasien COVID-19. Dokter selanjutnya bisa melakukan pemeriksaan lebih detail dan melakukan hal yang dianggap perlu serta penting bagi keselamatan pasien.

Dikutip dari Today, hingga saat ini belum ada karakter atau kriteria khusus untuk menandai seseorang berisiko lebih tinggi terkena happy hypoxia. Dokter ahli paru intervensi Dr Udit Chaddha mengatakan, happy hypoxia hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan kadar oksigen dalam tubuh menggunakan pulse oximeter.

Dr Chaddha mengingatkan, happy hypoxia bukan kondisi yang mengakibatkan panik atau khawatir. Namun masyarakat umum wajib waspada dengan meningkatkan upaya pencegahan COVID-19. Kondisi kesehatan bisa menurun dengan memperlihatkan sedikit tanda atau tidak sama sekali.
https://kamumovie28.com/the-bodyguard-2/

Komentar

Postingan Populer