Mungkinkah Nyamuk Tularkan Virus Corona? Ini Jawaban Studi

Meskipun nyamuk dapat menyebarkan beberapa penyakit, terutama malaria, para ahli mengklaim bahwa hewan ini tidak bisa menyebarkan virus Corona. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengungkapkan, hingga saat ini tidak ada data yang menunjukkan bahwa virus Corona dapat disebarkan oleh nyamuk ataupun kutu.
Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh World Health Organization (WHO), yang menyatakan bahwa gigitan nyamuk tidak akan menularkan virus Corona. Dikutip dari laman AP News, COVID-19 menyebar dari orang ke orang lain melalui percikan droplet ketika mereka berbicara, batuk, atau bersin, dan ada kemungkinan penularan melalui udara di ruangan tertutup.

Adanya anggapan nyamuk bisa menyebarkan virus Corona juga ditepis oleh sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Nature terkait kegagalan SARS-CoV-2 untuk menginfeksi atau berkembang biak pada nyamuk. Tiga spesies nyamuk yang dalam penelitian tersebut membuktikan bahwa virus Corona COVID-19 tidak berhasil menginfeksi nyamuk dan berkembang biak di dalamnya terlebih dahulu, sehingga tidak ada kemungkinan nyamuk bisa menularkan virus Corona COVID-19 itu kepada manusia.

"Di sini kami memberikan data percobaan pertama untuk menyelidiki kapasitas SARS-CoV-2 untuk menginfeksi dan ditularkan oleh nyamuk. Tiga spesies nyamuk yaitu aedes aegypti, ae albopictus dan Culex quinquefasciatus, yang mewakili dua genera paling signifikan dari vektor arbovirus yang menginfeksi manusia, diuji," jelas para peneliti dalam jurnal tersebut.

Kesimpulannya, hingga saat ini baik pernyataan WHO maupun para pakar kesehatan memastikan bahwa nyamuk tidak menyebarkan virus Corona. Terlebih, didukung oleh hasil suatu studi tersebut.

"Kami menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi ekstrim, virus SARS-CoV-2 tidak dapat berkembang biak pada nyamuk-nyamuk ini, dan oleh karena itu tidak dapat ditularkan ke orang-orang," sebut para peneliti.

Soal Obat COVID-19 Unair, Kasad Tegaskan Siap Perbaiki Kekurangan

Obat COVID-19 yang digagas Universitas Airlangga (Unair), Badan Intelijen Negara (BIN), dan TNI Angkatan Darat (TNI AD) mendapat evaluasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa menyebut siap memperbaiki jika ditemukan kekurangan dari hasil uji klinis.
"Seperti yang kami sampaikan pada saat awal bahwa uji klinis itu sudah diselesaikan oleh tim beserta semua yang bekerjasama," katanya saat jumpa pers di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Rabu (26/8/2020).

"Kemudian pada hari kita serahkan pada BPOM itu 19 Agustus kalau tidak salah. Kemudian di situ memang pertama kali diserahkan hasilnya maupun corrective and preventive action (CAPA)," imbuh Andika.

Dari situlah mungkin BPOM harus mereview, melihat kembali dan semangat pada saat pihaknya menyerahkan obat tersebut. Di mana semangatnya adalah masing-masing ingin memberikan yang terbaik.

"Jadi dari BPOM akan mereview, kalau memang ditemukan ada kekurangan dalam hal uji klinis, kita pun akan siap untuk memperbaikinya. Jadi itu saja," ujarnya.

"Dokumen dari corrective and prevent effection ini dikirim ulang hari senin kemarin dan diterima oleh BPOM. Jadi kami tinggal menunggu dan intinya kami siap," lanjut Andika.

Soal target khusus terkait kapan obat COVID-19 diproduksi secara massal, Andika mengaku masih menunggu hasil review dari BPOM. Mengingat hasil review menjadi acuan pihaknya dalam mengembangkan obat tersebut.

"Ya itu tadi, mungkin menunggu saja sampai dengan hasil review selesai, feedback kepada kita juga diberikan, dan kita pun menindaklanjuti, itu aja. Tapi kita pasti akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dan secepat-cepatnya," katanya.
https://kamumovie28.com/paterson-2/

Komentar

Postingan Populer