Kisaran Harga Kandidat Vaksin Corona China yang Rencananya Akan Dipakai di Indonesia
Pemerintah Indonesia makin agresif untuk menambah pasokan vaksin Corona untuk mencukupi kebutuhan vaksinasi sebagai salah satu upaya mengakhiri pandemi COVID-19. Kerja sama dengan berbagai pengembang vaksin di seluruh dunia tengah dilakukan, salah satunya dengan China.
Disebutkan oleh jubir Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito setidaknya ada tiga kandidat vaksin Corona China yang rencananya akan dipakai di Indonesia. Kira-kira setelah rampung, berapa ya harga vaksinnya?
Untuk vaksin Corona Sinovac yang saat ini tengah menjalani uji klinis di Bandung, Jawa Barat, kisaran harga per dosis adalah sekitar 5-10 dolar AS atau setara Rp72.500-Rp145.000.
"Harga vaksin masih kami hitung, untuk perkiraan sementara estimasi US$5-US$10," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Sementara itu harga kandidat vaksin Corona yang dikembangkan oleh China National Pharmaceutical Group atau Sinopharm berada di kisaran 1.000 yuan atau sekitar Rp 2,1 juta untuk dua kali suntikan. Harga vaksin Sinopharm disebut yang paling mahal di antara kandidat vaksin COVID-19 lainnya.
Sebagian vaksin COVID-19 yang dikembangkan disebut butuh dua kali suntik agar tubuh bisa membentuk kekebalan yang optimal.
Pengembang dari kandidat lainnya yang juga akan bekerja sama dengan Indonesia yakni CanSino, hingga kini belum mengungkap kisaran harga vaksin yang mereka buat.
238 Karyawan LG Positif Corona, Pakar Anggap Skrining COVID-19 Berhasil
Sebanyak 238 karyawan pabrik LG di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dilaporkan terkonfirmasi positif virus Corona (COVID-19). Hal ini diketahui setelah salah seorang karyawan meninggal dunia dan diduga terkait COVID-19.
"Kasus awalnya ada pekerja meninggal tanggal 19 Agustus di Rumah Sakit Pasar Rebo Jaktim karena COVID-19. Lalu dilakukan PCR massal hari Jumat, karena almarhum termasuk staf di office yang mobile," kata juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bekasi, Alamsyah.
Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, mengatakan terdeteksinya 238 orang positif Corona di pabrik LG bisa menandakan bahwa proses pelacakan kasus COVID-19 di Indonesia sudah cukup baik.
"Iyalah harusnya memang begitu," kata dr Miko kepada detikcom, Rabu (26/8/2020).
Meski begitu, dr Miko menegaskan bahwa sepatutnya Indonesia bisa lebih baik lagi dalam melakukan tes Corona setiap harinya, seperti Amerika Serikat dan India. Ia pun mencontohkan dengan tingkat positivity rate yang ada di DKI Jakarta, yakni 10 persen seharusnya bisa lebih banyak orang yang terdeteksi positif COVID-19 jika tesnya semakin diperbanyak.
"Percayalah dengan tingkat positivity rate DKI sekarang 10 persen, yang diperiksa kalau 4.000 saja 400, kalau 8.000 berapa? 800. Jadi di Indonesia juga begitu, sekarang pemeriksaan cuman 20.000-an kalau dinaikin 30.000-an dengan positivity rate yang sama akan ditemukan jumlah yang berbeda," jelasnya.
Dalam wawancara terpisah, dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), mengatakan sudah menjadi kewajiban bagi setiap perusahaan jika ada karyawannya yang dinyatakan positif COVID-19, untuk dilakukan tes Corona secara massal di perusahaan tersebut.
"Komitmen serta concern kepedulian perusahaan terhadap pencegahan penularan itu baik. Artinya, semua mesti kalau konfirmasi kan semua karyawannya di-swab. Nah ada banyak perusahaan yang tidak melakukan itu," ujar dr Masdalina.
https://cinemamovie28.com/the-man-from-u-n-c-l-e/
Komentar
Posting Komentar