Viral Video Pengendara Motor Pakai Plastik Menutupi Kepala Cegah Corona

Masker saat ini jadi kebutuhan. Pemerintah menghimbau semua warga yang keluar rumah diminta menggunakan masker demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona COVID-19.
Anjuran mengenai penggunaan masker bagi seluruh warga itu juga disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Masker yang langka karena tingginya permintaan membuat sebagian orang mengakalinya. Seperti yang dilakukan oleh pengendara motor satu ini, ia menggunakan plastik bening menutupi helm sebagai ganti untuk masker penangkal virus Corona.

Hal ini diketahui dalam sebuah video yang dibagikan oleh akun Instagram @agoez_bandz4 seperti dilihat detikcom, Selasa (14/4/2020).

Video berdurasi 32 detik itu menunjukkan pengemudi motor sedang menyusuri jalanan. Tidak diketahui pasti di mana lokasi pengendara tersebut.

"Tak ada masker kantong plastik pun jadi," tulis pemilik akun dalam caption unggahannya.

WHO Sebut Butuh Vaksin untuk Bisa Hentikan Penyebaran Corona Sepenuhnya

Beberapa negara dilaporkan mulai menghadapi ancaman gelombang kedua virus Corona COVID-19. China misalnya, pada hari Minggu (12/4/2020) melaporkan mendapat 108 kasus infeksi Corona baru yang lebih dari setengahnya dari luar negeri alias kasus impor.
Terkait ancaman gelombang kedua ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan wabah virus Corona bisa terus kembali dan muncul di semua negara. Dibutuhkan vaksin yang sudah teruji untuk benar-benar bisa menghentikan penyebaran virus.

"Keterhubungan kita secara global dapat diartikan bahwa risiko pengenalan ulang dan kemunculan kembali COVID-19 akan terus berlanjut. Pada akhirnya pengembangan dan pengiriman vaksin yang aman serta efektif diperlukan untuk sepenuhnya menghentikan transmisi," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

WHO mengingatkan agar negara lebih berhati-hati saat memutuskan meringankan kebijakan pengendalian virus Corona hanya karena laporan kasus baru yang mulai menurun. Bila kebijakan seperti lockdown atau karantina wilayah dicabut prematur, ada risiko wabah kembali mengganas.

"Artinya upaya pengendalian ini harus dicabut pelan-pelan dan terarah. Tidak bisa sekaligus," kata Tedros seperti dikutip dari akun Twitter resmi WHO, Selasa (14/4/2020).

"Upaya pengendalian hanya bisa dicabut apabila ada kebijakan kesehatan masyarakat lain yang sudah disiapkan, termasuk kapasitas pelacakan yang signifikan," ungkapnya.

Berisiko Picu Masalah Jantung, Uji Klorokuin untuk Obat Corona Dihentikan

Sebuah penelitian di Brazil yang menguji obat antimalaria klorokuin untuk pasien COVID-19 harus dihentikan lebih awal. Alasannya karena salah satu kelompok pasien mengalami masalah aritmia jantung atau gangguan irama jantung yang berbahaya.
Awalnya, penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah klorokuin bisa dinyatakan sebgai pengobatan aman dan efektif bagi pasien COVID-19. Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, satu dengan 'dosis tinggi' atau 600 mg dua kali sehari dalam 10 hari dan 'dosis rendah' sekitar 450 mg selama lima hari.

Namun, pada 81 pasien yang diberikan klorokuin, peneliti melihat adanya gejala yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari setelah memulai pengobatan, lebih banyak kelompok dalam dosis tinggi mengalami masalah irama jantung.

Dua pasien dalam kelompok dosis tinggi mengalami detak jantung cepat dan abnormal atau takikardia venterikel sebelum meninggal.

Sebagai hasil dari temuan ini, para peneliti akhirnya menghentikan kelompok studi dosis tinggi. Mereka memperingatkan agar tidak menggunakan dosis tinggi untuk setiap pasien COVID-19.

"Studi ini memperlihatkan adanya kekhawatiran dan penghentian pemberian dosis tinggi di seluruh dunia," tulis peneliti dalam makalah mereka di MedRxiv, mengutip Live Science.

Salah satu rumah sakit di Prancis juga dilaporkan menghentikan pemberian hydroxychloroquine dan klorokuin setelah satu pasien mengalami masalah gangguan irama jantung. Klorokuin dan hydroxychloroquine telah digunakan selama beberapa dekade sebagai pengobatan untuk malaria dan umumnya ditoleransi dengan baik; tetapi satu komplikasi utama adalah risiko masalah irama jantung yang serius.

Komentar

Postingan Populer