Uni Emirat Arab Setop Terbitkan Visa Wisatawan
Uni Emirat Arab (UEA) kembali membuat kebijakan untuk pencegahan virus Corona. Kali ini, UEA tak menerbitkan visa untuk wisatawan.
Kementerian Kesehatan UEA menyatakan bahwa sudah ada 85 warganya yang positif terkena virus Corona. Untuk mereduksi penyebaran virus Covid-19 itu, pemerintah menutup pertokoan dan mall serta melarang kegiatan di tempat umum.
Selain itu, UEA tak lagi memberikan visa kepada turis. Dikutip detikcom dari Khaleej Times, penyetopan visa berlaku efektif mulai 17 Maret 2020. Tapi, pemegang paspor diplomatik bakal masih dilayani.
"Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari tindakan pencegahan yang diambil oleh UEA dalam menanggapi deklarasi Covid-19 dari WHO, sebagai pandemi yang memberikan risiko tinggi terkait dengan perjalanan saat ini," pernyataan Authority for Identity And Citizen (ICA) UEA.
Tapi, wisatawan yang sudah terlanjur mendapatkan visa untuk masuk UEA pada 17 Maret atau setelahnya tak perlu khawatir. Sebab, kebijakan itu hanya berlaku untuk mereka yang akan mengurus visa sebelum kebijakan ini dikeluarkan.
Artinya, traveler yang sudah terlanjur berencana liburan ke UEA akan tetap diterima di negara tersebut. Kebijakan ini hanya akan diberlakukan untuk sementara waktu saja.
"ICA menegaskan bahwa keputusan tersebut berasal dari rasa tanggung jawab yang mendalam dari Uni Emirat Arab dan upaya dengan negara-negara lain di dunia dalam memerangi pandemi virus Corona yang sedang berlangsung," pernyataan tersebut.
Kisah Liburan 'Neraka', dari Kapal Pesiar Mewah ke Pusat Karantina
Sepasang turis dari Australia mengalami liburan bencana gara-gara wabah virus Corona. Dari kapal pesiar mewah, mereka dibawa ke pusat karantina selama 14 hari.
John dan Carole Welch tak pernah menyangka nasib akan menuntun mereka ke 'neraka'. Awalnya, pasangan turis dari Australia ini bahagia-bahagia saja saat liburan mewah naik kapal pesiar Diamond Cruises.
Namun yang tidak pernah disangka oleh mereka, di kapal pesiar tersebut merebak virus Corona yang membuat ribuan penumpang dikarantina. Liburan yang seharusnya ceria malah berubah jadi bencana untuk keduanya.
Dirangkum detikTravel dari beberapa sumber, Selasa (17/3/2020), seusai dievakuasi dari kapal pesiar Princess Diamond, pasangan ini tidak boleh langsung pulang ke rumah, melainkan harus menjalani lagi masa karantina tambahan selama 14 hari di Darwin Quarantine Centre.
Di pusat karantina inilah, John dan Carole malah makin sengsara. Masalahnya, fasilitas di pusat karantina tersebut dianggap tidak layak, terutama di seminggu pertama mereka di sana.
"Kami dipisah. Kamarnya tidak lebih besar dari kamar kita di kapal (pesiar) dan sangat steril. Sungguh sangat tidak bersahabat. Siapapun yang membuat keputusan ini pikirannya sungguh kacau," John mengungkapkan keluhannya seperti dikutip dari media Current Affair Australia.
Pasangan itu juga mengklaim pusat karantina tersebut mengancam agar mereka menuruti peraturan yang sudah ditetapkan, seperti dilarang melepaskan masker. Sebab, jika tidak patuh, masa karantina mereka akan diperpanjang.
Selama dua pekan, pasangan itu bersama penumpang Diamond Princess lainnya dipisahkan dari dunia luar. Tak ada internet di seminggu pertama, sama juga dengan televisi, tidak ada hiburan sama sekali.
Setelah seminggu berlalu, keadaan mulai membaik, tapi tetap saja penjagaan yang sangat ketat dilakukan di pusat karantina tersebut, membuat moral mereka semakin ciut.
Setelah dua minggu masa karantina berlalu, pasangan Welch dinyatakan negatif virus Corona dan dilepaskan dari pusat karantina. Mereka diterbangkan pulang menuju ke Queensland untuk bersatu kembali dengan keluarganya.
Komentar
Posting Komentar