Momen Haru Saat Jenazah Perawat di Tangsel Mendapat Penghormatan Terakhir

 Viral di media sosial video haru yang memperlihatkan jenazah perawat pasien virus Corona saat diberikan penghormatan terakhir. Dalam video yang beredar, disebutkan perawat bernama Ns (Nurse) Elok Widyaningsih dan meninggal di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.
Terlihat belasan orang tenaga medis berbaris di sisi kanan dan kiri saat ambulans yang membawa jenazah perawat tersebut diberangkatkan. Video yang menggambarkan momen tersebut viral di media sosial.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga tidak ada lagi nakes yang menjadi korban," begitu cuitan salah satu netizen.

Saat dikonfirmasi detikcom, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadillah, Skep, SH, MKep, membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, hal itu pun terjadi di beberapa tempat lain.

"Iya benar tadi sudah saya konfirmasi ke satgas. Iya itu spontan teman-teman, semua kok Mbak itu yang di RS Mitra Kelapa Gading, RS Kariadi Semarang juga begitu," ungkapnya saat dihubungi pada Rabu (15/4/2020).

Para Ilmuwan Sarankan Sosial Distancing Perlu Dilakukan Hingga 2022

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa kegiatan social distancing atau jaga jarak sosial mungkin perlu dilakukan hingga 2022 mendatang. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya gelombang lain virus Corona COVID-19 yang bisa saja mengancam jiwa manusia.
"Kami memproyeksikan bahwa wabah SARS-CoV-2 yang kemungkinan akan terjadi lagi setelah gelombang pandemi awal yang parah ini," tulis para ilmuwan dari Harvard University yang dikutip dari Daily Star.

Para ilmuwan tersebut mengatakan kegiatan jaga jarak sosial perlu dilakukan paling lama selama dua tahun, agar bisa menghentikan gelombang kedua pandemi ini. Mereka juga menganalisis bagaimana pandemi berkembang di masa depan.

"Bahkan pengawasan terhadap virus ini harus tetap dipertahankan, karena perkembangan penularan ini diprediksi bisa saja berlangsung hingga akhir 2024," tulisnya.

Penelitian juga mengatakan seperti halnya mengatasi influenza, banyak skenario yang harus disiapkan untuk menanggulangi virus Corona. Hal ini menunjukkan bahwa COVID-19 ini bisa bersirkulasi dalam pola sporadis sepanjang tahun atau bahkan mungkin terjadi secara musiman.

Marak Rapid Test Corona Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri?

 Wabah virus Corona yang tak mereda di Indonesia membuat banyak masyarakat menjadi parno (paranoid) atas status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang akhirnya membeli rapid test yang dijual di lapak online untuk mengetes diri mereka, yang ternyata lebih banyak dampak negatifnya.
Seperti yang diketahui, rapid test adalah screening awal untuk melihat ada atau tidaknya antibodi yang terbentuk setelah terpapar virus, dalam hal ini COVID-19. Caranya adalah dengan mengecek sampel darah yang diambil di ujung jari.

Meski prosedurnya terlihat mudah, namun tidak semua orang bisa mengecek sendiri. Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Soebandrio mengatakan yang harus melakukan prosedur rapid test adalah petugas kesehatan.

"Sebaiknya yang melakukan itu adalah petugas kesehatan karena mereka akan mencatat orang ini tinggalnya di mana, hasilnya apa. Kalau negatif berarti harus diulang lagi dalam beberapa hari kemudian untuk memastikan. Kalau positif diuji kembali dengan PCR (Polymerase Chain Reaction)," katanya kepada detikcom melalui sambungan telepon, Rabu (15/4/2020).

Belum lagi jika kit rapid test yang dibeli tidak diakui kualitasnya. Hasil false negatif tentunya akan lebih besar.

"Harus memastikan kit yang dibeli kualitasnya diakui karena banyak sekali kit yang ditawarkan, lebih dari 10 merek, tidak semuanya di approve di negaranya sendiri. Sebab banyak yang hanya berupaya menghasilkan kit untuk dijual," terangnya.

Hal ini senada dengan penjelasan Kepala BNPB (Badan Nasional Penganggulangan Bencana) Doni Monardo yang menyebut meski pemerintah telah mendistribusi 500 ribu unit alat rapid test, tidak semuanya negatif. Maka dari itu saat ini pemerintah lebih mendatangkan test PCR. Bahkan ada kit rapid test yang didatangkan di Indonesia tetapi ditolak negara lain.

"Jadi tetap kita lakukan rapid test ini. Hanya memang perlu konsekuensi. Biasanya tidak cukup satu kali untuk rapid test ini. Dan juga beberapa ada yang diperiksa dengan rapid test itu negatif, setelah diperiksa dengan PCR positif. Ada juga sebaliknya, ketika diperiksa menggunakan rapid test hasilnya positif, ketika diperiksa oleh PCR negatif. Jadi ini juga menjadi persoalan," papar Doni.

Komentar

Postingan Populer