Rutin Bercinta Bisa Bikin Payudara Makin Besar? Mitos atau Fakta
Sebagian orang beranggapan wanita yang rutin melakukan hubungan seks akan memiliki ukuran payudara yang lebih besar. Namun, apakah benar begitu?
Dikutip dari Times of India, saat melakukan hubungan seks, sejumlah bagian tubuh akan mengalami perubahan. Perubahan ini dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang.
Nah, membesarnya ukuran payudara merupakan salah satu bentuk dari perubahan jangka pendek atau hanya bersifat sementara. Hal ini karena adanya perubahan sirkulasi darah di area payudara, sehingga membuatnya tampak menjadi lebih penuh dan kencang.
"Berhubungan seks dapat mengubah bentuk dan penampilan payudara Anda untuk sementara waktu, karena perubahan sirkulasi darah," jelas Dr Judith Holmes, dokter umum dari Spire Parkway Hospital, dikutip dari Pall Mall Medical.
Ukuran payudara dapat bertambah dari 15 persen hingga 25 persen. Semua ini terjadi ketika wanita sedang mengalami orgasme.
Saat orgasme, bagian tubuh wanita akan mengalami banyak perubahan. Misalnya, jantung berdetak lebih cepat, endorfin dilepaskan, kadar dopamin melonjak, kadar estrogen dan progesteron tubuh juga mencapai puncaknya.
"Saat (payudara) distimulasi, hormon oksitosin akan dilepaskan dan menyebabkan puting menjadi ereksi," ucap Dr Ram Prasad, konsultan bedah payudara di Pall Mall Medical.
"Selain itu, otot di belakang payudara juga akan berkontraksi dan menyebabkan areola menegang dan menimbulkan efek seperti bulu kuduk menjadi merinding," lanjutnya.
Namun, Prasad kembali menegaskan ukuran payudara yang membesar saat berhubungan seks ini hanyalah bersifat sementara. Artinya ukuran payudara akan kembali normal usai bercinta.
"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa aktivitas seksual yang rutin memiliki efek permanen pada payudara," pungkasnya.
https://movieon28.com/movies/sin-3/
Orang yang Jalannya Lambat Bisa Lebih Berisiko Meninggal karena COVID-19
Studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti Inggris menemukan bahwa orang dengan kecepatan berjalan yang lambat bisa hampir empat kali lebih berisiko meninggal karena COVID-19. Hal ini diduga berkaitan dengan kondisi kebugaran fisik.
Pemimpin studi Profesor Tom Yates dari Leicester Biomedical Research Centre mengetahuinya dengan menganalisa data sekitar 400.000 orang berusia paruh baya. Orang-orang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu yang jalannya lambat di bawah 4,8 km per jam, menengah atau sedang yaitu 4,8-6,4 km per jam, dan cepat di atas 6,4 km per jam.
Hasilnya ditemukan orang di kelompok yang berjalan lambat 3,75 kali lebih berisiko meninggal dunia karena COVID-19 dibanding mereka yang jalannya cepat. Orang di kelompok jalan lambat juga disebut 2,5 kali lebih mungkin mengalami gejala parah bila terinfeksi.
Pada orang dengan obesitas, risikonya terhadap COVID-19 hampir sama ditiap kelompok kecepatan jalan.
"Kita sudah tahu bahwa kerapuhan dan obesitas menjadi faktor kunci penting terhadap keparahan kasus COVID-19," kata Prof Tom, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (20/3/2021).
"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan orang dengan jalan lambat bisa lebih berisiko terhadap COVID-19 parah, terlepas dari berat badan," lanjutnya.
Komentar
Posting Komentar