Rusia Dituding Sebar Hoax Soal Vaksin Corona
Empat media online yang diduga terkait dengan badan intelijen Rusia, menyebarkan misinformasi atau hoax terkait vaksin Corona.
Informasi ini didapat dari sumber di divisi Global Engagement Center Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, seperti dikutip detikINET dari The Verge, Senin (8/3/2021).
Keempat situs tersebut adalah New Eastern Outlook, Oriental Review, News Front, dan Rebel Inside. Semuanya itu menyebarkan hoax terkait efek samping dari vaksin Pfizer dan juga bermacam vaksin lain asal Negara barat.
Hoax yang disebar itu bermacam, dari masalah stok sampai apakah vaksin tersebut benar-benar efektif ataupun proses pemberian izinnya yang terburu-buru.
Situs-situs tersebut memang tak banyak dibaca orang, namun informasi dari situs tersebut seringkali diambil dan disirkulasikan ulang oleh bermacam media internasional.
"Badan intelijen Rusia dianggap ada di balik empat platform yang menyebarkan kebohongan dan propaganda ini," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri AS.
Tak cuma menyebar hoax soal vaksin Corona buatan Negara Barat, Rusia pun lewat situs media dan akun Twitternya gencar mempromosikan vaksin Sputnik V buatan mereka.
Tudingan di atas dibantah oleh juru bicara Pemerintahan Rusia.
Pada November lalu Rusia mengumumkan kalau vaksin Sputnik V punya tingkat efikasi 90%. Namun pernyataan ini dikritisi karena uji klinis yang dilakukan terhadap vaksin tersebut dinilai terlalu sedikit.
Kemudian sebuah jurnal medis asal Inggris bernama The Lancet melaporkan kalau Sputnik V sudah diuji secara besar-besaran, yang kemudian membuktikan kalau vaksin tersebut aman dan punya tingkat efikasi 91%.
Per 4 Februari lalu, baru 4 juta orang di Rusia yang menerima vaksin Corona, atau hanya 3% dari total populasi mereka.
https://kamumovie28.com/movies/this-perfect-day/
Meneguhkan Digital Banking dan Branchless Banking di Indonesia
Pada Desember 2020, kami di Sharing Vision melakukan survey bertajuk E-Channel Fintech E-Commerce & e-Lifestyle dengan melibatkan 1.729 orang responden. Hasilnya yang utama adalah 91% responden telah menggunakan uang elektronik (e-money).
Menurut responden dalam jawaban terbukanya, merujuk survey, Gopay menempati peringkat pertama e-money terbanyak digunakan sebesar 81% responden. Selanjutnya, OVO 71%, Shopeepay 44%, Dana 41%, Mandiri e-money 21%, Flazz 18%, Link Aja 16%, Brizzi 5%, i.saku 2%, Jakcard 1%, Paytren 1%, dan lainnya 2%.
Sebagai salah satu gambaran kondisi riil di masyarakat disebutkan, e-money terbanyak digunakan untuk pembayaran jasa antar makanan sebanyak 86% responden. Kemudian pembayaran transportasi daring (77%), pembelian pulsa (67%), e-commerce (61%), pembayaran resto/kafe (58%), pembayaran tol (41%), pembayaran minimarket (36%), transportasi umum (31%), tiket parkir (28%), utilitas (22%), lainnya (4%).
Sebanyak 78% responden mengaku pernah menggunakan layanan pembayaran QR code. Mereka umumnya menggunakan untuk pembayaran makanan di resto atau kafe, pembayaran di minimarket, supermarket, atau mall.
Adapun motivasi penggunaannya sendiri bervariasi. Mulai karena simpel, aman, efisien, banyaknya promo, mandatori e-money seperti tol, hingga salah satunya jawaban menunjukkan preferensi masyarakat Indonesia kekinian: Tidak perlu datang ke bank.
Komentar
Posting Komentar