Hasil Uji Klinis Fase-1 Vaksin Nusantara Diungkap, Ini Detailnya
- Vaksin Corona Nusantara sudah melakukan uji klinis tahap pertama. Tim Peneliti RSUP dr Kariadi Semarang, Dr dr Muchlis Achsan, menjelaskan tak ada efek samping berat yang didapat.
Dalam uji klinis fase 1, terdapat subjek dengan 3 pilot dan 28 unblinded subject. Hasil yang dinilai berupa safety atau keamanan termasuk melihat kejadian efek samping dan efikasi atau manfaat perlindungan dan hasil imunogenitas.
Dari sisi keamanan, dilaporkan 14,2 persen subjek mengalami gejala lokal ringan seperti nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, serta gatal pada titik suntik. Mereka membaik tanpa obat atau perawatan.
Sementara itu sebanyak 39,2 persen subjek mengalami reaksi sistemik ringan. Pada 24 jam pertama, keluhan terbanyak adalah nyeri sendi serta sakit kepala. Sekitar 65,6 persen peserta juga mengalami keluhan derajat ringan.
"Tidak ditemukan kejadian serious adverse event pada seluruh objek vaksinasi," terang dr Muchlis dalam raker DPR Komisi IX Rabu (10/3/2021).
Dari sisi imunogenitas atau efikasi, terlihat adanya peningkatan yang konsisten di semua panel pemeriksaan.
"Menurut kami perlu dilanjutkan dengan uji klinik fase 2 dengan subjek yang lebih besar," terangnya.
Hingga kini belum ada kepastian kapan vaksin Nusantara akan berlanjut ke tahap kedua. Pihak peneliti masih menunggu kajian dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
https://nonton08.com/movies/challenge-game/
Pemakaian Hormon Saat Hamil Tingkatkan Risiko Hipospadia? Ini Kata Dokter
Baru-baru ini atlet bola voli wanita, Serda Aprilia Manganang, dinyatakan sebagai pria usai menjalani sejumlah pemeriksaan. Ia diketahui mengidap kondisi hipospadia, yakni kelainan bawaan sejak lahir yang ditandai dengan lubang urethra berada di bagian bawah penis.
The Center of Disesase Control and Prevention (CDC) menyebut, salah satu faktor yang meningkatkan risiko hipospadia pada bayi laki-laki adalah penggunaan hormon tertentu sebelum dan selama kehamilan.
Terkait hal tersebut, dr Shanty Olivia Jasirwan, SpOG-KFER, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi di Rumah Sakit Pondok Indah, mengatakan bahwa jenis program kehamilan yang dipilih oleh pasangan tidak memiliki pengaruh apapun terhadap janin.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Virtual Small Group Media Discussion pada Rabu (10/3/2021). Dokter Olivia mengatakan program kehamilan yang ada saat ini sudah terbukti tidak berpengaruh terhadap kandungan dan bukan salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan atau kelainan pada janin.
"Jadi, memang treatment kehamilan ini sudah terbukti tidak mempengaruhi (hipospadia). Treatment kehamilan ini tidak mempengaruhi kecacatan pada janin, ya. Jadi, memang cukup aman," kata dr Olivia.
Disebutkan oleh dokter Olivia, jika memang terdapat laporan bahwa program kehamilan tertentu dapat menyebabkan kecacatan pada janin, maka program tersebut tentunya tidak akan ada hingga saat ini. Pasalnya, program kehamilan pada pasangan dilakukan sebelum terjadinya kehamilan.
"Kalau misalnya memang ada laporan-laporan seperti ini (kecacatan), tentunya kan tidak akan dipergunakan lagi sampai saat ini. Tentunya obat-obatan ini akan ditarik. Dan ini obat-obatan ini kan tujuannya untuk sebelum terjadinya kehamilan. Jadi, diberikannya kan sebelum kehamilan, tidak ada hubungannya," jelasnya lagi.
Komentar
Posting Komentar