Eropa Mulai Lanjutkan Pemakaian Vaksin AstraZeneca, Indonesia Bagaimana?
Vaksin Corona AstraZeneca tersandung isu pembekuan darah. Terkait hal ini, pihak European Medicines Agency (EMA) melakukan penyelidikan terhadap 30 kasus tersebut dan menyatakan vaksin AstraZeneca membawa manfaat yang lebih besar daripada risikonya.
Saat ini, sejumlah negara Eropa yang tadinya menunda pemberian vaksin AstraZeneca perihal keamanan akhirnya melanjutkan penggunaannya. Lalu bagaimana di Indonesia?
"Masih menunggu kajian BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan," kata jubir vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi, saat dihubungi detikcom, Jumat (19/3/2021).
Seperti yang diketahui, Indonesia telah mendapatkan 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca produksi Korea Selatan melalui jalur multilateral COVAX. Vaksin tersebut kini disimpan di Bio Farma sembari menunggu kajian sebelum didistribusikan.
Dalam rilis BPOM, meski vaksin COVID-19 AstraZeneca telah mendapatkan Emergency Use Listing (EUL) dari WHO untuk vaksinasi COVID-19, BPOM tetap melakukan pengkajian lengkap aspek khasiat dan keamanan bersama Komite Nasional Penilai Obat (KOMNAS PO) serta melakukan kajian aspek mutu yang komprehensif.
Hingga kini, BPOM masih terus mengkaji laporan kasus pembekuan darah yang terjadi di Austria. Selama pengkajian masih terus berlangsung, vaksin AstraZeneca tak bisa digunakan.
Selama masih dalam proses kajian, vaksin Covid-19 AstraZeneca direkomendasikan tidak digunakan," tulis BPOM.
https://kamumovie28.com/movies/hit-run-2/
Kakak 'Aprilia Manganang' Idap Hipospadia Serius, Apa Sih Bedanya?
Kakak 'Aprilia Manganang' juga mengidap hipospadia. Meski belum diketahui penyebab pastinya, salah satu penyebab hipospadia juga terjadi karena riwayat genetik.
Menurut Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, kakak Serda Aprilia Santini Manganang yang kini berubah nama menjadi Aprilio Perkasa Manganang, Amasya Manganang, juga mengidap hipospadia.
Kondisi ini terungkap setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
"Hasilnya ternyata sangat mirip. Hasil pemeriksaan, Amasya tidak seberuntung kita, sakit juga. Kita sampaikan ke Amasya dan Amasya menjawab, 'Saya kalau bisa dibantu, saya ingin menjadi diri saya sebenarnya'. Kita putuskan, kita akan siapkan prosedur sama. Beliau juga serius masuk hipospadia serius," kata Andika.
Hipospadia serius
Menurut dokter spesialis urologi dr Rachmat Budi Santoso, hipospadia berat bahkan bisa membuat penis benar-benar tertutup hingga pria kerap dikira berjenis kelamin perempuan. Ada tiga jenis hipospadia yang sejauh ini ditemukan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Subcronal: Lubang uretra berada di suatu tempat dekat kepala penis
Midshaft: Lubang uretra berada di sepanjang batang penis
Penoscrotal: Lubang uretra berada di tempat bertemunya penis dan skrotum.
Jika kondisi hipospadia serius tak tertangani, seseorang akan terus mengalami kesulitan saat buang air kecil bahkan berhubungan seksual. Selain riwayat genetik, seorang ibu yang berusia di atas 35 tahun dan obesitas juga berisiko tinggi melahirkan anak dengan kondisi hipospadia.
Begitu juga dengan penggunaan hormon tertentu, menurut CDC, sangat tinggi risikonya.
"Wanita yang mengonsumsi hormon tertentu sebelum atau selama kehamilan terbukti memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi denganhipospadia," sebut CDC.
Komentar
Posting Komentar