Diet Ini Diklaim Bisa Atasi Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi yang cukup untuk berhubungan seks. Kondisi ini bisa menyebabkan stres hingga memengaruhi kepercayaan diri.
Disfungsi ereksi juga terkait dengan penyakit kardiovaskular dan kondisi kesehatan serius lainnya. Penelitian menemukan bahwa pria yang pilihan makanannya mirip dengan diet mediterania cenderung berisiko rendah mengalami disfungsi ereksi. Dikutip dari Men's Health, diet ini juga dikenal dapat menurunkan risiko penyakit kanker dan penyakit jantung.
Diet mediterania adalah cara mengatur pola makan yang didasarkan pada makanan tradisional yang biasa dimakan masyarakat di negara-negara yang wilayahnya dekat laut mediterania. Diet ini menekankan konsumsi sayur, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Selain untuk menurunkan berat badan, diet mediterania juga bisa membantu kehidupan seks agar lebih baik.
Penelitian yang dipimpin asisten profesor kedokteran University of California dalam Journal of American Medical Association berusaha mengukur seberapa penting makan makanan yang sehat untuk menjaga fungsi ereksi pada pria. Penelitian dilakukan Universitas Harvard pada 21.469 pria dan kualitas makanan mereka yang dilaporkan setiap empat tahun antara 1986 hingga 2014.
dr Bauer menemukan bahwa pria yang mengikuti pola makan serupa dengan diet mediterania memiliki risiko rendah mengalami disfungsi ereksi pada usia berapa pun. Ia juga mengatakan untuk tetap memperhatikan bahwa diet sehat dapat memberikan perbedaan besar.
Dalam penelitian yang sama, pria berusia di bawah 60 tahun yang menjalani diet ini juga mengalami penurunan risiko penyakit kronis. Untuk melakukan diet mediterania bisa dimulai dengan sayur-sayuran, buah-buahan, kacang, kentang, roti, herbal, ikan, makanan laut, minyak zaitun, telur, dan daging merah yang bisa menjadi pilihan.
Ahli mengatakan diet mediterania adalah diet terbaik untuk menurunkan berat badan.
https://cinemamovie28.com/movies/street-stall/
Fakta-fakta Delirium, Kondisi Mental yang Jadi Gejala Baru COVID-19
Pada bulan November lalu, sebuah studi terbaru kembali mengatakan bahwa delirium termasuk salah satu gejala awal COVID-19. Kondisi ini khususnya dialami oleh orang-orang lanjut usia (lansia) yang terinfeksi virus Corona.
"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi. Kita perlu waspada... Karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin merupakan indikasi adanya infeksi," kata peneliti dari University of Catalonia, Javier Correa yang dikutip dari laman Eurekalert.
Berikut beberapa fakta terkait delirium yang telah dirangkum detikcom.
Kondisi perubahan mendadak di otak
Dikutip dari Healthline, delirium merupakan kondisi perubahan mendadak di otak yang memicu kebingungan dan berkurangnya kesadaran. Kondisi ini seringkali membuat pengidapnya sulit untuk berpikir, tidur, mengingat sesuatu, dan memperhatikan sesuatu.
Disebut sebagai gejala COVID-19
Berdasarkan studi yang dipublikasi dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy, ditemukan adanya kaitan antara virus Corona COVID-19 dengan otak sebagai sistem saraf pusat. Peneliti menemukan adanya indikasi bahwa virus tersebut mempengaruhi sistem saraf pusat, hingga mengakibatkan perubahan pada neurokognitif seperti delirium dan sakit kepala.
"Penyebabnya mungkin di antara tiga hal. Kurangnya pasokan oksigen pada otak, peradangan jaringan otak akibat badai sitokin, dan fakta bahwa virus memiliki kemampuan untuk mengalir di dalam darah yang bisa menuju otak," papar Correa. Menurutnya, satu dari tiga faktor itu berpotensi menyebabkan delirium.
Komentar
Posting Komentar