Berapa Lama Masa Berlaku Rapid Test Antigen? Ini Menurut Aturan Satgas

 Mulai hari ini beberapa daerah diketahui menerapkan rapid test antigen COVID-19 sebagai syarat masuk orang-orang dari luar. Peraturan ini disebut untuk mencegah penularan virus Corona COVID-19 karena pergerakan masyarakat jelang natal dan tahun baru.

Sesuai namanya, rapid test antigen bekerja dengan cara mendeteksi antigen (zat yang ada di permukaan virus). Rapid test antigen disebut-sebut bisa lebih akurat daripada rapid test antibodi dalam mendeteksi kasus infeksi aktif COVID-19.


Dikutip dari Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, hasil dari rapid test antigen, rapid test antibodi, dan tes PCR disebut berlaku selama 14 hari.


"Menunjukkan surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif atau surat keterangan uji rapid test dengan hasil non reaktif yang berlaku 14 pada saat keberangkatan," tulis surat edaran seperti dikutip dari covid19.go.id, Jumat (18/12/2020).


Hal serupa juga disebut dalam peraturan daerah baru di Bali. Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut bahwa rapid test antigen diwajibkan untuk seluruh orang yang ingin masuk ke Bali lewat transportasi darat dan laut, sementara pemeriksaan PCR diwajibkan untuk mereka yang ingin masuk lewat transportasi udara.


"Surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR dan hasil negatif uji rapid test antigen berlaku selama 14 (empat belas) hari sejak diterbitkan," tulis Wayan Koster dalam Surat Edaran Nomor 2021 Tahun 2020 di Provinsi Bali.


"Selama masih berada di Bali wajib memiliki keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil negatif uji rapid test antigen yang masih berlaku," lanjut surat edaran.

https://tendabiru21.net/movies/jailangkung-2/


Kata Dokter soal Pentingnya Cegah Thalassemia Lewat Skrining Pranikah


Salah satu penyakit genetik yang kerap ditemukan di Indonesia adalah thalassemia. Dokter spesialis anak dan konsultan hematologi anak Prof Dr dr Pustika Amalia Wahidiyat menjelaskan penyakit ini merupakan penyakit turunan dari orang tua pembawa gen thalassemia kepada anak-anaknya.

Menurutnya, thalassemia merupakan kelainan sel darah merah akibat abnormalitas genetik. Hemoglobin tidak terbentuk sempurna dalam kondisi ini sehingga sel darah merah mudah pecah dan mengakibatkan anak rentan mengalami anemia.


Penyakit ini dapat dibedakan menjadi minor dan mayor. Pada thalassemia minor, seseorang biasanya tak bergejala namun bisa menurunkan gen thalasemia kepada anaknya. Sedangkan thalassemia mayor lebih serius dan senantiasa memerlukan donor darah tiap bulannya.


Sayangnya, penyakit ini belum ada obat dan tidak bisa menggunakan vaksin untuk mencegah penyakit ini. "Vaksin tidak bisa digunakan karena vaksin biasanya digunakan untuk menyakit menular. Berbeda dengan thalassemia yang merupakan penyakit genetik," jelas Lia.


Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan screening hemoglobin sebelum menikah atau pada usia produktif. Lia juga menjelaskan pentingnya untuk menjelaskan kepada pasangan yang memiliki riwayat penyakit thalassemia untuk memberikan pemahaman terkait penyakit ini.



"Salah satu cara mencegahnya adalah memberi pengetahuan kepada orang yang menikah dan mempunyai gen thalassemia. Mereka berisiko memiliki anak dengan thalassemia yang memerlukan transfusi darah seumur hidup atau bahkan tidak memiliki anak sama sekali," tuturnya dalam webinar HaiBunda berjudul 'Pentingnya Screening Pranikah Thalassemia untuk Mendapatkan Anak Unggul'.


Simak dan nantikan juga soal penyebab dan cara mencegah kanker serviks di webinar HaiBunda, KLIK DI SINI.

https://tendabiru21.net/movies/jailangkung/

Komentar

Postingan Populer