Diklaim 90 Persen Efektif Cegah COVID-19, Ini Perkiraan Harga Vaksin Pfizer
Hasil awal uji klinis ketiga vaksin Corona Pfizer disebut 90 persen efektif mencegah COVID-19. Kabar baik ini juga membawa harapan bagi banyak orang pada vaksin COVID-19 yang tengah dikembangkan.
"Hari ini adalah hari yang luar biasa bagi sains dan kemanusiaan," kata Albert Bourla, PhD, ketua dan CEO Pfizer.
"Rangkaian hasil pertama dari uji coba vaksin COVID-19 tahap 3 kami memberikan bukti awal kemampuan vaksin kami untuk mencegah COVID-19," lanjutnya.
Vaksin Corona Pfizer merupakan yang pertama menyampaikan kabar baik terkait hasil uji coba ketiga vaksin COVID-19. Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, ini kisaran harga yang pernah diperkirakan dan berapa lama antibodi bertahan usai diberi vaksin COVID-19 Pfizer.
1. Antibodi atau kekebalan yang muncul usai divaksin
Dikutip dari laman resmi Pfizer, perlindungan atau antibodi yang didapat tercapai setelah 28 hari dimulainya vaksinasi, dan 7 hari usai menerima dosis kedua. Saat studi berlanjut persentase kemanjuran vaksin akhir bisa bervariasi, demikian sebut pihak Pfizer.
Uji klinis tahap ketiga dari vaksin COVID-19 Pfizer BNT162b2 dimulai pada 27 Juli, dan ada sebanyak 43.538 peserta hingga saat ini yang telah terdaftar, 38.955 di antaranya telah menerima dosis kedua dari kandidat vaksin pada 8 November 2020. Sekitar 42 persen peserta global dan 30 persen peserta AS memiliki latar belakang ras dan etnis yang beragam.
2. Perkiraan harga vaksin COVID-19 Pfizer
Dikutip dari FiercePharma, Pfizer dan BioNTech akan menjual vaksin COVID-19 berbasis mRNA mereka kepada pemerintah AS dengan perkiraan biaya $ 19,50 per suntikan.
"Label harga yang akan membuat perusahaan memiliki margin yang layak sebesar 60 persen hingga 80 persen keuntungan," sebut SVB Leerink Analis Geoffrey Porges menulis dalam sebuah catatan kepada investor Rabu lalu.
https://kamumovie28.com/movies/anguish/
Ditemukan di 6 Negara, Seberapa Bahaya Mutasi Corona dari Cerpelai?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap ada 6 negara yang melaporkan penularan Corona dari cerpelai atau mink. Enam negara tersebut di antaranya Denmark, Amerika Serikat, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia.
Denmark menjadi negara pertama yang melaporkan penularan Corona dari cerpelai, hewan yang masih satu keluarga dengan musang. Tercatat ada lebih dari 200 orang di Denmark yang dilaporkan terinfeksi Corona dari cerpelai.
Maka dari itu, pihak Denmark pun memusnahkan 17 juta cerpelai untuk menghindari potensi penyebaran Corona semakin luas.
Apakah jenis virus Corona dari cerpelai ini berbahaya?
Dikutip dari Express UK, WHO menyebut laporan virus Corona terkait cerpelai cukup mengkhawatirkan tetapi butuh penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan tingkat risiko bahaya Corona dari cerpelai.
Namun, berdasarkan data yang ada saat ini, WHO meyakini mutasi Corona dari cerpelai tidak membuat virus menjadi lebih berbahaya atau lebih menular dibandingkan virus lainnya.
"Ini tetap menjadi perhatian ketika virus hewan apa pun menyebar ke populasi manusia, atau ketika populasi hewan dapat berkontribusi untuk memperkuat dan menyebarkan virus yang mempengaruhi manusia," sebut WHO.
"Saat virus berpindah antara populasi manusia dan hewan, modifikasi genetik pada virus dapat terjadi," lanjut WHO dalam laman resminya.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran dari para ahli mutasi Corona dari cerpelai bisa menyebabkan penyakit tersebut kurang efektif ditangani vaksin di masa depan.
"Sangat, sangat serius," sebut Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menanggapi mutasi Corona dari cerpelai.
"Kami memiliki tanggung jawab besar terhadap populasi kami sendiri, tetapi dengan mutasi yang sekarang telah ditemukan, kami juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk seluruh dunia," tegasnya.
Komentar
Posting Komentar