Tak Usah Minder, Ini Perbandingan Rerata Ukuran Mr P di Berbagai Negara
Seorang pria di Kabupaten Probolinggo melaporkan istrinya atas pencemaran nama baik. Warga Kecamatan Sumberasih, ini melaporkan istrinya berinisial PM (46) warga Kecamatan Gending, ke polisi karena menceritakan alat kelaminnya yang kecil.
Ia menilai alat kelamin kecil itu juga sudah banyak diketahui teman sekantornya hingga pedagang pasar. HF diketahui menikahi PM sekitar 10 bulan lalu.
Ukuran penis atau Mr P hingga saat ini memang masih menjadi perdebatan yang tak ada habisnya. Namun, para ilmuwan dari King's College London mengungkapkan bahwa rata-rata panjang kemaluan pria tidak sebesar yang dibayangkan.
Rata-rata panjang Mr P saat tidak ereksi (dihitung dari bagian dasar hingga ujung lubang) mencapai sekitar 9 cm. Sedangkan lingkarnya hanya berkisar 9,3 cm. Begitupun sebaliknya, saat penis sedang 'tegang', Mr P memiliki panjang rata-rata sekitar 13 cm dan lingkarnya mencapai 12 cm.
Penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Urology International, menjelaskan dengan rata-rata seperti itu, berarti dari 100 pria, hanya 5 orang saja yang penisnya bisa sepanjang 16 cm saat ereksi. Sedangkan pada 90 persen pria sebenarnya hanya memiliki penis dengan panjang antara 10 hingga 16 cm.
Sementara itu, ada 10 besar negara dengan ukuran penis paling panjang di dunia, dikutip dari laman WorldData.info. Data ini diambil dalam kondisi saat ereksi, bukan flaccid atau lemas.
Brazil (16,1 cm)
Belanda (15,87 cm)
Italia (15,35 cm)
Jerman (14,52 cm)
Inggris (13,97 cm)
Spanyol (13,85 cm)
Australia (13,31 cm)
Amerika (13,21 cm)
Jepang (10,92 cm)
China (10,89 cm)
Sebaliknya, ada 5 negara yang menduduki peringkat paling bawah dalam daftar penis terpanjang dari 88 negara adalah:
Korea Utara (9,66 cm)
Korea Selatan (9,66 cm)
Kamboja (10,04 cm)
Thailand (10,16 cm)
Burma (10,7 cm)
https://kamumovie28.com/legend-2015/
Remdesivir Disebut Tak Terlalu Bermanfaat, Gilead Pertanyakan Temuan WHO
Gilead Sciences Inc mempertanyakan temuan organisasi kesehatan dunia WHO soal antivirus remdesivir. Dikatakan, obat ini hanya memberikan sedikit efek pada pasien virus Corona COVID-19.
Dalam Solidarity Trial, WHO menyebut remdesivir hanya memberikan sedikit efek pada kematian ataupun lama waktu perawatan pada pasien dengan gangguan pernapasan.
Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat ini menyebut, data yang digunakan tampak tidak konsisten. Temuan tersebut dinilai prematur, sedangkan penelitian lain memvalidasi manfaat remdesivir.
Presiden AS Donald Trump merupakan salah satu pasien COVID-19 yang menerima pengobatan remdesivir. Menurut berbagai penelitian sebelumnya, pemberian remdesivir memperpendek waktu perawatan, meski Uni Eropa tengah menyelidiki kemungkinan cedera ginjal.
Dikutip dari Reuters, penelitian yang dilakukan WHO melibatkan 11.266 pasien dewasa di lebih dari 30 negara. Bukti yang didapat disebut konklusif menurut WHO.
Sementara penelitian Gilead pada 1.062 pasien yang dibandingkan dengan pemberian plasebo menunjukkan adanya waktu pemulihan yang lebih pendek pada pasien COVID-19.
"Data emerging (WHO) tampak inkonsisten, dengan lebih banyak bukti kuat dari penelitian terkontrol dan acak yang dipublikasikan di jurnal peer reviewed memvalidasi manfaat klinis remdesivir," kata Gilead kepada Reuters.
Komentar
Posting Komentar