Diminta Tak Tergesa-gesa, Kapan Sebenarnya Vaksinasi COVID-19 Bisa Dilakukan?
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta program vaksinasi virus Corona COVID-19 tidak dilakukan secara tergesa-gesa. PB IDI pun menyurati Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto agar vaksinasi dilakukan setelah vaksin sudah terbukti keamanannya.
Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan, apa yang saat ini dilakukan Kementerian Kesehatan hanyalah mempersiapkan program vaksinasi.
"Ini adalah persiapan menunggu hasil clinical trial dan dari proses di BPOM," kata Airlangga dalam konferensi pers di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Kamis (22/10/2020).
Dalam kesempatan yang sama Airlangga juga menjelaskan, hingga saat ini belum ada yang menentukan kapan vaksinasi COVID-19 di Indonesia bisa dilakukan. Pasalnya, vaksinasi baru bisa dilakukan setelah mendapatkan sertifikasi dari BPOM.
Sementara untuk mendapat perizinan dari BPOM, kandidat vaksin COVID-19 haruslah menyelesaikan uji klinis tahap 3 terlebih dahulu.
"Proses clinical trial itu diperkirakan sampai bulan Desember. Jadi Desember itu baru kita mendapatkan clinical trial yang di Bandung dan tentu sesudah clinical trial, BPOM baru bisa memberikan perizinan," jelasnya.
Tak hanya itu, BPOM juga perlu melihat dan menilai fasilitas pembuatan vaksin COVID-19 yang digunakan oleh perusahaan pengembang, baik itu di Sinovac, Sinopharm, maupun Bio Farma. Hal ini dilakukan agar kualitas vaksin bisa tetap terjaga dengan baik.
"Jadi timingnya sangat tergantung kepada hasil perizinan dari BPOM. Jadi tidak menentukan tanggal sekian, bulan sekian, tapi ini mengikuti kepada hasil penelitian clinical trial dan mengutamakan keselamatan jiwa manusia," tuturnya.
https://nonton08.com/coffee-with-ana/
Total 13 Meninggal Usai Suntik, Korsel Bantah Terkait Vaksin Flu
Total warga Korea Selatan yang dilaporkan meninggal usai suntik vaksin flu terakhir sebanyak 13 orang. Menurut laporan resmi media lokal, dalam beberapa hari terakhir, hal ini memicu kekhawatiran publik soal keamanan vaksin.
Dikutip dari Reuters, Otoritas Korea Selatan mengatakan kematian warga tersebut tidak ada kaitan langsung dengan vaksinasi influenza. Sementara itu, Korsel juga memastikan tidak akan menangguhkan program vaksinasi flu untuk 19 juta orang secara gratis usai adanya laporan kematian tersebut.
"Tidak ada zat beracun yang ditemukan dalam vaksin, dan setidaknya lima dari enam orang yang diselidiki memiliki kondisi yang mendasarinya (penyakit penyerta)," kata para pejabat.
Para pejabat telah melaporkan sembilan kematian setelah vaksinasi flu dan kantor berita Yonhap melaporkan empat lainnya pada hari Kamis.
Total 13 kematian yang dilaporkan termasuk seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dan seorang pria berusia 70 tahun. Laporan kematian tercatat usai program vaksinasi flu gratis untuk remaja dan lansia dimulai kembali.
Program tersebut ditangguhkan selama tiga minggu setelah ditemukan bahwa sekitar 5 juta dosis, yang perlu disimpan di lemari es, telah terpapar pada suhu kamar saat diangkut ke fasilitas medis.
Vaksin Korea Selatan berasal dari berbagai sumber. Produsen termasuk pembuat obat lokal GC Pharma, SK Bioscience dan Ilyang Pharmaceutical Co, bersama dengan Sanofi Prancis dan Glaxosmithkline Inggris. Distributor termasuk LG Chem Ltd dan Boryung Biopharma Co Ltd, sebuah unit dari Boryung Pharm Co Ltd.
https://nonton08.com/journey-to-the-west-the-demons-strike-back/
#Cokelathitamdanalmond #Telurrebus #Sardenkalengan #Edamame #camilansehat
Komentar
Posting Komentar