Relawan Sempat Sakit, Uji Klinis Vaksin COVID-19 AstraZeneca Dilanjutkan
Uji klinis vaksin COVID-19 yang dikembangkan AstraZeneca bersama Universitas Oxford sempat dihentikan karena salah seorang relawan jatuh sakit. Setelah dipastikan aman, uji klinis dilanjutkan lagi.
Baru-baru ini, uji klinis tersebut dihentikan karena salah seorang relawan di Inggris mengalami gejala neurologis terkait gangguan peradangan langka yang disebut transverse myelitis.
"Pada 6 September, proses kajian standar memicu penghentian sukarela terhadap vaksinasi pada seluruh uji secara global untuk memberi kesempatan peninjauan terhadap data keamanan oleh komite independen dan regulator internasional," kata AstraZeneca, dikutip dari Reuters, Minggu (13/9/2020).
Dikatakan, hasil kajian merekomendasikan kepada Medicines Health Regulatory Authority (MHRA) bahwa uji klinis aman dilanjutkan di Inggris.
Pemerintah di seluruh dunia saat ini tengah mengharapkan temuan vaksin yang efektif dan aman untuk menghentikan pandemi yang telah menewaskan lebih dari 900 ribu orang di seluruh dunia. Organisasi kesehatan dunia WHO menyebut kandidat vaksin AstraZeneca paling menjanjikan.
3 Risiko Fatal Balap Lari Liar di Tengah Pandemi COVID-19
Balap lari liar di jalanan tengah hits di sejumlah tempat. Banyak yang menganggapnya sebagai hal positif karena melibatkan aktivitas fisik seperti halnya olahraga.
Di tengah pandemi virus Corona COVID-19, olahraga mernjadi salah satu upaya untuk menjaga imunitas atau daya tahan tubuh. Tubuh yang bugar karena rajin olahraga akan memiliki imunitas yang baik sehingga tidak mudah terinfeksi.
Tapi benarkah sehatnya olahraga bisa didapat dengan mengikuti balap lari liar? Yuk, dikupas satu persatu.
1. Klaster balapan
Bukan tanpa alasan jika lomba lari yang sempat ngetren tahun lalu, banyak dibatalkan tahun ini. Kalaupun ada yang tetap digelar, umumnya dikemas ulang dalam bentuk virtual.
Potensi penularan saat terjadi kerumunan menjadi salah satu pertimbangan tidak diadakannya lomba lari tahun ini. Kerumunan serupa juga terjadi dalam balap lari liar. Malahan, lebih banyak yang berkerumun untuk nonton dibanding yang berlari.
"Penonton ini berpotensi lagi menjadi klaster baru, karena mereka seperti suporter. Ada kemungkinan juga dong setelah menang dia mendatangi suporternya dia. Bagaimana mau dicari itu tracing-nya kalau seperti itu?" kata dr Michael Triangto, praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy.
2. Imunitas turun
Olahraga yang dianjurkan untuk menjaga imunitas adalah olahraga dengan intensitas ringan-sedang. Mudahnya, masih bisa dilakukan sambil berbicara dengan nyaman.
Balap lari liar, sesuai namanya, adalah sebuah kegiatan kompetitif yang tidak mungkin dilakukan dengan intensitas ringan. Masing-masing kontestan dipastikan akan menggeber kemampuan fisiknya hingga batas maksimal agar bisa bersaing dengan lawan. Apalagi, biasanya pakai taruhan.
"Latihan fisik intensitas tinggi dengan volume tinggi justru dapat menurunkan sistem imun," demikian rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO).
3. Rawan cedera
Dalam beberapa video yang viral, kontestan balap lari liar tidak menggunakan sepatu saat bertanding. Ada juga yang mengharuskan peserta berlari menggunakan sandal. Alas kaki yang tidak sesuai sudah pasti meningkatkan risiko cedera. Apalagi dilakukan bukan di track lari, melainkan jalan raya yang kadang-kadang dipenuhi ranjau paku.
https://nonton08.com/dear-zindagi/
Komentar
Posting Komentar