Masih ada 1.355 Bed Isolasi COVID-19, Ganjar Pastikan RS di Jateng Aman
Angka kasus COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah masih cukup tinggi hingga hari ini. Namun dipastikan ruang isolasi bagi pasen Corona masih tersedia dan bisa menampung penanganan pasien.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan untuk data hari ini yang terupdate pukul 08.00 WIB pagi tadi masih ada 1.355 bed atau 40,5 persen dari kapasitas total di Jateng.
"Kapasitas TT (bed) Isolasi RS di Jateng 3.343. Masih tersedia 1.355 TT," kata Ganjar lewat pesan singkat, Sabtu (12/9/2020).
Ganjar menjelaskan sejumlah tempat yang disiapkan sebagai tempat isolasi bahkan masih kosong. RS Bung Karno Solo juga disiapkan untuk tempat khusus perawatan pasien COVID-19 juga belum terpakai.
"Umpama kita nyiapin (Asrama Haji) donohudan, belum kepakai. Bank Jateng lama yang ada di (kawasan) Kota Lama itu udah kita siapin itu, sama sekali nggak kepakai," lanjut Ganjar di rumah dinasnya.
"Termasuk kalau rumah sakitnya kurang kami nyiapin RS Bung Karno Solo, itu mau kita khususkan. Tapi sampai hari ini juga belum dan itu masih standby masih kosong, sebenarnya kita lebih banyak siaga," imbuhnya.
Ganjar pun tidak berharap ketersediaan bed untuk pasien COVID-19 terisi. Dengan masih adanya bed kosong yang cukup banyak, Ganjar juga megingatkan bukan berarti kemudian tidak disiplin protokol kesehatan.
"Itu tidak berarti kita harus tidak disiplin lho, jangan lho, jangan sampai kita tidak disiplin. Mentang-mentang masih ada terus mau dipenuhi, lebih baik dikosongin," katanya.
Sementara itu untuk diketahui, dari data https://corona.jatengprov.go.id/ yang diperbarui setiap pukul 12.00 WIB total kasus COVID-19 terkonfirmasi ada 17.729, yang dirawat 2.856 orang, sembuh 13.220 orang, meinggal 1.653 orang, suspek 1.637 orang, probabel 1.125 orang.
Alasan Kumpul-kumpul 'Penutupan' Sebelum PSBB
Kumpul-kumpul 'closing-an' alias penutupan sebelum penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tampaknya jadi tren di kalangan anak muda akhir pekan ini. Tidak takut virus Corona atau saking sudah frustrasi apa-apa dibatasi?
Menurut pengakuan seorang remaja kepada detikcom, kumpul-kumpul semacam ini mereka lakukan sekadar untuk 'have fun' melampiaskan kebosanan. Mereka tidak khawatir dengan risiko penularan karena sehari-hari memang sering berkumpul.
"Saya sih kumpul-kumpul aja dan yakin gak kenapa-napa. Toh, emang hampir setiap hari kan sama mereka. Kalau mereka kena, saya juga bakal kena," kata remaja yang tak mau disebut namanya tersebut.
Beberapa warga yang ditemui detikcom juga mengaku tetap akan menggelar kumpul-kumpul dengan rekannya ketika PSBB kembali diperketat. Selama menerapkan protokol kesehatan, mereka menganggapnya aman-aman saja dilakukan.
"Karena bakal banyak tempat yang tutup, palingan kita kumpul di cafe punya temen kita aja sih," kata seorang pengunjung mal.
Sementara itu, psikolog Nuzulia Rahma Tristinarum mengomentari kecenderungan foto-foto saat berkumpul lalu membagikannya di media sosial. Menurutnya, hal itu akan mempengaruhi orang lain yang melihatnya dan mendorong untuk ikut-ikutan.
Dengan masih tingginya kasus penularan COVID-19, kumpul-kumpul tentu meningkatkan risiko. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 100 dokter meninggal dunia di garis depan penanganan COVID-19.
"Berempatilah pada beberapa nakes yang sedang berjuang, yang bahkan bisa jadi sedang berjuang demi salah satu anggota keluarga kita. Salah satu ciri manusia masih menjadi manusia adalah jika masih memiliki hati dan empati," pesan Rahma.
https://nonton08.com/dont-go-breaking-my-heart/
Komentar
Posting Komentar