Viral 'Jakarta Zona Hitam Corona' Dipastikan Hoax, Ini Faktanya

 Baru-baru ini beredar pesan berantai yang menyebut Jakarta masuk kategori zona hitam persebaran virus Corona COVID-19. Pesan tersebut disertai sebuah potongan slide berisi peta Jakarta berwarna hitam bertuliskan Badan Intelijen Negara (BIN).
Deputi VII BIN memastikan Wawan Hari Purwanto memastikan informasi tersebut adalah hoax. "Hoaks, bukan dari BIN," katanya saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).

Berdasarkan data dari Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 pusat, kasus COVID-19 di wilayah Jakarta Barat sebanyak 1268, Jakarta Timur sebanyak 1305, Jakarta Selatan sebanyak 1309, dan Jakarta Utara sebanyak 1775, dan Jakarta Pusat sebesar 2213 per Rabu,(12/08/2020).

Sementara itu, data resmi dari Satgas penanganan COVID-19 menunjukkan wilayah Jakarta memiliki dua kategori zona, yaitu zona merah dan oranye. Berikut data zona risiko di DKI Jakarta:

- Jakarta Selatan: zona oranye (zona risiko sedang)
- Jakarta Barat: zona merah (zona risiko tinggi)
- Jakarta Timur: zona merah (zona risiko tinggi)
- Jakarta Pusat: zona merah (zona risiko tinggi)
- Kepulauan Seribu: zona oranye (zona risiko sedang)
- Jakarta Utara: zona merah (zona risiko tinggi).

Jika dilihat peta persebaran COVID-19 secara nasional, peta DKI Jakarta tidak terlihat berwarna hitam. Secara keseluruhan peta persebaran Corona juga tidak menampilkan satu daerah pun yang berwarna hitam.

Rusia Umumkan Vaksin Corona Pertama di Dunia, Begini Reaksi AS

 Presiden Rusia Vladimir Putin hari Selasa (11/8/2020) mengumumkan bahwa Rusia telah menjadi yang pertama di dunia yang memberikan persetujuan peraturan untuk vaksin virus Corona.
Meski demikian, Menteri Kesehatan Amerika Serikat (AS) Alex Azar mengatakan bahwa AS tidak akan terpengaruh oleh klaim temuan vaksin virus Corona pertama dari Rusia. Disebutkan Azar, AS lebih memprioritaskan keamanan dan efektivitas dalam pengembangan vaksin.

"Intinya bukan menjadi yang pertama dengan vaksin, intinya adalah memiliki vaksin yang aman dan efektif untuk masyarakat Amerika dan masyarakat dunia," jelas Azar dikutip dari ABC News.

"Kami membutuhkan data yang transparan, dan itu harus data tahap ketiga, yang menunjukkan bahwa vaksin itu aman dan efektif," tambah Azar.

Klaim Rusia atas vaksin tersebut telah menimbulkan keraguan dari berbagai para ahli, yang mengatakan bahwa negara tersebut menyetujui vaksin hanya berdasarkan data awal yang tidak lengkap.

Selain itu, Komisaris Food and Drug Administration (FDA) Scott Gottlieb juga mengkritik klaim soal vaksin Rusia yang dianggap masih terlalu dini untuk diresmikan menjadi vaksin.

"Rusia 'menyetujui' vaksin yang setara dengan data fase I mungkin merupakan upaya lain untuk memicu keraguan atau mendorong AS untuk memaksa tindakan awal pada vaksin kami," tulis Gottlieb dalam postingan Twitternya.

Pakar ahli infeksi menular terkenal di AS, Dr Anthony Fauci, berharap bahwa Rusia bisa membuktikan vaksin yang mereka produksi aman.

"Saya berharap Rusia benar-benar telah membuktikan secara pasti bahwa vaksin itu aman dan efektif. Saya benar-benar ragu bahwa mereka telah melakukan itu," ujar Fauci.
https://cinemamovie28.com/hanna/

Komentar

Postingan Populer