Soal Jejak Corona di Frozen Food, WHO: Tak Ada Bukti Menular lewat Makanan
- China kembali menemukan jejak virus Corona dalam makanan beku atau frozen food yang membuat khawatir banyak orang. Namun, direktur eksekutif program darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Mike Ryan, mengatakan belum ada bukti virus Corona menular lewat makanan hingga saat ini.
"Namun saat ini tidak ada bukti bahwa makanan ikut serta dalam penularan virus Corona," ujar dr Mike Ryan dalam siaran pers di kantor WHO Jenewa, yang dikutip dari CNBC International, Kamis (14/8/2020).
"Orang tidak boleh takut pada makanan atau pengemasan makanan, atau pemrosesan dan pengiriman makanan. Makanan sangat penting," imbuhnya.
"Dan saya tidak suka berpikir bahwa kita akan menciptakan kesan ada masalah dengan makanan kita. Kami berada di bawah tekanan yang cukup (dalam menghadapi pandemi)," jelasnya.
Tak hanya WHO, para peneliti di China pun sampai saat ini masih terus mempelajari masalah tersebut. Bahkan badan internasional sedang melacak temuan mereka.
Dilaporkan NBC News, sebelumnya tiga kota di China melaporkan temuan jejak virus di permukaan frozen food impor selama empat hari. Ini meningkatkan kekhawatiran bahwa virus itu bisa ditularkan melalui makanan dan menyebabkan wabah baru.
Dalam membuktikannya, pejabat WHO mengatakan otoritas kesehatan China sudah menguji setidaknya ratusan ribu sampel frozen food dan menemukan 'sangat sedikit' jejak virus Corona. Mereka juga mengatakan telah mengeluarkan panduan dari United Nations Food and Agriculture Organization yang berkaitan dengan cara menangani makanan dengan aman.
"Bahkan jika virus memang menular lewat makanan yang tidak ditunjukkan oleh bukti, virus dibunuh sebelum kita memakannya," kata kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove.
"Kalau virus sebenarnya ada di makanan, dan kita tidak punya contoh di mana virus ini ditularkan sebagai bawaan makanan, padahal seseorang sudah mengkonsumsi produk makanan, virus itu bisa dibunuh seperti virus lain juga, bisa dimatikan kalau dagingnya sudah matang," imbuhnya.
"Orang-orang sudah cukup takut, cukup takut pada pandemi COVID-19," tegas Ryan.
Pihak WHO mengatakan temuan ini sangat penting untuk dipelajari lebih dalam lagi. Untuk membuktikan kebenarannya, perlu adanya bukti ilmiah dan WHO tidak akan mengabaikan temuan-temuan itu.
"Penting bagi kami untuk melacak temuan seperti ini, dan penting bagi kami untuk tidak mengabaikan bukti ilmiah di tempat kami menemukannya. Tapi, penting juga bagi orang untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut," jelas Ryan.
Pakai Masker 'Celana Dalam', Miliarder AS Ditangkap Polisi
Miliarder teknologi asal Amerika Serikat (AS), John McAfee mengaku mendapat panggilan dari pihak kepolisian Norwegia. lantaran menggunakan masker berbentuk aneh saat hendak menghadiri sebuah acara.
Masker tersebut ternyata dibuat dari celana dalam wanita atau thong. Celana dalam tersebut berwarna hitam yang dilengkapi juga dengan tali untuk menggantungkannya di telinga.
Sebelumnya, Jhon Miliarder teknologi itu berencana akan menghadiri "Red Scarf Society" di Munich, Jerman, tetapi kemudian membatalkan pertemuan itu.
Akibat ulahnya tersebut, McAfee ditahan petugas setempat dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Janice, istri dari McAfee, mengonfirmasi penahanan suaminya lewat akun Twitter sambil memperlihatkan sejumlah foto McAfee mengenakan thong.
"Saya bersikeras ini (pakai celana dalam sebagai masker) adalah metode teraman yang tersedia dan saya menolak memakai barang lain, demi kesehatan saya," kata McAfee, dikutip dari laman Daily Mail.
McAfee merupakan pendiri McAfee LLC dan beberapa bisnis lainnya. Ia telah menghadapi penegakan hukum di berbagai negara pada beberapa kesempatan.
https://cinemamovie28.com/meeting-in-secret-2/
Komentar
Posting Komentar