Perokok 5 Kali Lebih Rentan Corona, Dokter Paru Ungkap Alasannya
Virus Corona COVID-19 dan racun rokok punya kesamaan, yakni sama-sama merusak pernapasan. Bahkan para ahli menyebut, perokok lebih rentan terinfeksi virus Corona.
Prof Dra RA Yayi Suryo Prabandari, M.Si, PhD, Ketua Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT), menjelaskan bahwa perokok berisiko lebih tinggi terpapar COVID-19 karena persentuhan jari pada mulut saat merokok berpeluang memicu transmisi virus SARS-CoV-2. Selain itu, pendistribusian rokok juga melewati beberapa tangan.
Pendapat senada disampaikan oleh dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR, Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang menjelaskan bahwa seorang perokok berpeluang terpapar infeksi virus Corona COVID-19 hampir 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan yang bukan perokok.
Menurut dr Agus, terdapat 4 penyebab seorang perokok berisiko tinggi terpapar COVID-19, yakni:
1. Jumlah reseptor ACE2 perokok lebih tinggi
dr Agus menjelaskan bahwa manusia memiliki reseptor yang bernama ACE2. Reseptor ini merupakan tempat bersarangnya virus, termasuk SARS-CoV-2. Data pemeriksaan patologi menunjukkan bahwa jumlah reseptor ACE2 pada seorang perokok lebih tinggi dibanding yang bukan perokok.
"Reseptor ACE2 merupakan tempat duduknya virus, salah satunya SARS-CoV-2 yang berada di saluran pernafasan dan organ-organ lain tubuh kita apabila terinfeksi COVID-19," ujar dr Agus melalui saluran online BNPB Indonesia, Rabu (12/08/2020).
2. Asap rokok dapat menurunkan imunitas
Bahan-bahan yang terdapat dalam rokok terbukti mengganggu proses migrasi berbagai sel-sel imunitas tubuh ketika melawan infeksi. Seorang perokok memiliki fungsi dan migrasi sel imunitas yang menurun, sehingga lebih mudah terkena infeksi COVID-19.
3. Menyangkut komorbiditas
COVID-19 menyerang sebagian besar menyerang seseorang yang memiliki komorbid, seperti diabetes, hipertensi, sakit paru kronik, dan lainnya. dr Agus menjelaskan perokok meningkatkan resiko penyakit komorbid lebih banyak.
"Perokok meningkatkan penyakit komorbid lebih banyak. Akibatnya, ketika seorang perokok yang memiliki penyakit komorbid, lebih mudah terinfeksi COVID-19," jelas dr Agus.
4. Gerakan memegang rokok yang dilakukan dengan berulang
dr Agus menyampaikan bahwa seorang perokok memegang rokok dengan cara ditaruh dan dipegang kembali, lalu dihisap. Hal itu dilakukan secara berulang. Terlebih lagi, jari tangan yang menempel pada mulut saat merokok juga dapat meningkatkan transmisi virus.
Soal Perkosaan di Bintaro, Ini Sebabnya Korban Kekerasan Seks Takut Bicara
Kasus perkosaan perempuan berinisial AF di Bintaro, Tangerang Selatan, akhirnya terungkap setelah hampir satu tahun. Kasus ini mencuat setelah AF curhat di media sosial tentang perkosaan yang dialaminya pada pertengahan Agustus 2019.
Lantas mengapa korban kekerasan seksual umumnya sulit untuk bersuara terkait hal ini?
Menurut psikolog klinis dari Personal Growth Veronica Adesla, ada beberapa kemungkinan penyebab korban kekerasan seksual sulit untuk bersuara. Di antaranya adalah rasa trauma dan timbulnya ketakutan terhadap stigma yang akan diberikan masyarakat kepada korban.
"Terus belum lagi ketakutan akan kemungkinan pelaku kemudian menyerang atau mengancam balik. Itu bisa menyebabkan kenapa banyak korban kekerasan seksual akhirnya tidak speak up," kata Vero, sapaan akrabnya kepada detikcom, Rabu (12/8/2020).
Meski memilih bersuara atau tidak adalah hak korban, Vero menyarankan sebaiknya para korban kekerasan seksual untuk berani bersuara agar kejahatan seperti ini tidak terjadi lagi.
"Karena dengan speak up kita membela apa yang menjadi hak kita. Kita mengganjar secara hukum orang yang melakukan tindakan kekerasan tersebut, sehingga tidak ada korban berikutnya dari orang yang bersangkutan," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/sesuai-aplikasi/
Komentar
Posting Komentar