Mutasi Corona D614G yang 10 Kali Lebih Menular Juga Ditemukan di Singapura

 Setelah sempat dilaporkan tidak ada penambahan kasus Corona baru, Singapura kembali mencatatkan adanya penambahan kasus. Menurut data dari Worldometer pada Rabu (19/8/2020), ada penambahan sebanyak 100 kasus , sehingga total keseluruhan kasus di negara tersebut mencapai 55.938.
Di tengah penambahan kasus ini, seorang ahli dari Singapura mengatakan bahwa ditemukan varian mutasi virus Corona di negara tersebut. Varian mutasi virus ini pertama kali ditemukan akhir Februari 2020 lalu.

Varian mutasi virus Corona ini awalnya ditemui di Eropa, Amerika Serikat, lalu baru-baru ini ditemukan di Malaysia.

Perwakilan dari Badan Sains, Teknologi, dan Penelitian Singapura, Dr Sebastian Maurer-Stroh, mengatakan Singapura telah melakukan pencegahan penyebaran Corona terkait temuan mutasi tersebut.

"Namun, tindakan penahanan yang dilakukan saat ini telah mencegah penyebaran virus ini dalam skala besar," katanya yang dikutip dari Channel News Asia, Rabu (19/8/2020).

"Karena varian ini telah beredar secara global, maka bisa ada di negara mana pun, dan setiap negara dengan pengawasan aktif telah melihatnya, terutama terkait dengan kasus impor dari pelancong," jelas Dr Maurer-Stroh.

Meski begitu, virus yang bermutasi tidak selalu menjadi lebih ganas. Menurut Dr Maurer-Stroh, mutasi ini malah membuat virus tidak lebih berbahaya.

Mengenal Vaksin Corona China Sinopharm Seharga Rp 2,1 Juta Dua Kali Suntik

 Perusahaan farmasi di China tengah mengembangkan vaksin virus Corona potensial, yaitu Sinopharm. Vaksin ini pun sudah masuk uji klinis tahap akhir pada manusia dan ditargetkan siap dipakai akhir 2020.
Kandidat vaksin yang ditaksir dengan harga Rp 2,1 juta dua kali suntikan ini dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Beijing dan Institut Produk Biologi Wuhan, yang merupakan anak dari perusahaan farmasi milik pemerintah China, yaitu China National Biotech Group (CNBG).

Dikutip dari South China Morning Post, CNBG mengatakan sudah mulai uji klinis tahap akhir pada manusia sejak 23 Juni 2020 lalu di Uni Emirat Arab. Uji coba tersebut dilakukan bekerja sama dengan pemerintah Abu Dhabi dan perusahaan G42 Healthcare yang melibatkan 15.000 peserta.

Apa itu vaksin Sinopharm?
Vaksin Sinopharm ini memanfaatkan virus Corona yang sudah dilemahkan atau sering disebut dengan inactivated vaccine. Kandidat vaksin ini diklaim menjadi yang pertama di dunia yang menunjukkan imunogenisitas dan keamanan yang sangat bagus.

Ketua China National Pharmaceutical Group (Sinopharm), Liu Jingzhen, mengatakan kandidat vaksin ini telah melewati uji klinis fase I dan fase II pada 12 April 2020 lalu. Berdasarkan dua fase uji klinis yang dilakukan, vaksin ini tidak menunjukkan adanya dampak yang buruk pada manusia.

Bahkan Liu mengatakan dirinya telah menerima suntikan vaksin tersebut saat uji coba pada 30 Maret 2020. Ia mengungkapkan bahwa vaksin itu belum menunjukkan adanya efek samping.

"Efeknya ideal dan belum ada yang mengalami efek samping yang parah," katanya.

Dalam makalah yang diterbitkan pada Kamis lalu, di Journal of American Medical Association (JAMA) oleh para ilmuwan bagian dari Sinopharm, tidak mencatat efek samping yang serius dari vaksin tersebut.
https://cinemamovie28.com/young-mom-2/

Komentar

Postingan Populer