Bisakah Terapi Tradisional Gurah Obati Pasien Corona?

 Terapi gurah merupakan metode tradisional yang dilakukan orang-orang untuk mengeluarkan lendir dari dalam tubuh dengan cara meneteskan ramuan ke dalam lubang hidung. Terapi ini jadi salah satu penanganan yang diyakini dapat mengobati pasien sinus, pilek, dan batuk berdahak.
Terkait hal tersebut, di tengah pandemi ini sebagian orang penasaran apakah terapi gurah bisa dimanfaatkan untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Alasannya karena ada anggapan sesak napas pasien Corona akibat paru-paru yang terisi cairan dapat diatasi dengan teknik gurah.

"Nakes di Indonesia apa tidak terpikirkan gurah sebagai metode penyembuhan corona ya?" komentar satu pengguna Twitter.

Menanggapi pernyataan itu, spesialis paru dr Moh. Ramadhani Soeroso, SpP, menilai bahwa sampai saat ini belum ada studi yang menyatakan teknik gurah dapat menyembuhkan pasien Corona. dr Ramadhani menyatakan bahwa masalah penumpukan lendir pada paru-paru hanya bisa diatasi dengan penanganan medis.

"Begini ya, kalau teknik gurah itu mengeluarkan lendir pada hidung, mana bisa dia sampai ke paru-paru? Teknik ini nggak cocok untuk menangani Corona," ujar dr Ramadhani saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/08/2020).

dr Ramadhani menyampaikan bahwa virus Corona memang kebanyakan menyerang paru-paru, tapi ia diketahui juga bisa menginfeksi organ lain. Beberapa studi contohnya menemukan konsentrasi virus COVID-19 pada saluran pencernaan.

Karena alasan-alasan tersebut, gurah dinilai bukan penanganan efektif untuk mengobati pasien COVID-19.

"Sekarang gejala Corona nggak cuma demam, batuk, sesak nafas loh... Orang bisa mengeluh diare, sakit perut, atau ada gejala lainnya juga," pungkasnya.

Terpopuler Sepekan: Vaksin Corona Rusia Diragukan Ahli, Diminati Banyak Negara

 Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan pada Selasa (11/8/2020) bahwa pihaknya telah menyetujui penggunaan vaksin Corona pertama di dunia. Putin mengatakan vaksin yang diberi nama 'Sputnik V' itu bekerja cukup efektif untuk membentuk kekebalan terhadap COVID-19.
"Pagi ini, untuk pertama kalinya di dunia, vaksin untuk melawan COVID-19 telah didaftarkan," ujarnya sebagaimana dilaporkan AFP.

Alexander Gintsburg, direktur Pusat Penelitian Nasional Gamaleya yang tergabung dalam penelitian menyatakan vaksin yang mereka kembangkan dari virus ber-DNA COVID-19. Virus ini sudah dilemahkan sehingga tidak membahayakan tubuh karena tidak dapat berkembang biak.

Hanya saja perjalanan vaksin Corona buatan Rusia ini cukup cepat sehingga menimbulkan kekhawatiran dari banyak pihak. Melihat perjalanan proses pembuatan vaksinnya, Sputnik V hanya melakukan uji klinis sebanyak 2 tahapan yang berlangsung selama 4 bulan, mulai dari Mei 2020-Agustus 2020.

Peter Kremsner, seorang ahli di Rumah Sakit Universitas Jerman di Tuebingen mengatakan langkah Rusia terlalu cepat dan terkesan terburu-buru. "Biasanya Anda membutuhkan banyak orang untuk diuji sebelum Anda menyetujui suatu vaksin. Saya pikir itu sembrono untuk melakukan itu jika banyak orang belum pernah diuji," ujarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga meminta Rusia memperhatikan tinjauan keamanan yang ketat. Sebab diketahui Rusia baru melaporkan perkembangan fase I uji klinis vaksin tersebut.

"Prakualifikasi vaksin apapun, mencakup tinjauan dan penilaian data keamanan dan kemanjuran diperlukan," kata Juru Bicara WHO Tarik Jasarevic dikutip dari Reuters.

Terlepas dari kekhawatiran para ahli kesehatan, banyak negara yang tertarik untuk mendapatkan vaksin yang akan diuji dalam skala massal pada September itu.

Filipina, Israel dan Brasil menjadi tiga negara pertama yang menyatakan siap melakukan uji coba lanjutan, memproduksi dan mendistribusikan vaksin Sputnik V buatan Rusia.

Selain itu Kemenkes Vietnam juga dilaporkan telah membuat permintaan pembelian vaksin virus Corona dari Rusia. Hal ini dilakukan dalam kondisi darurat akibat adanya lonjakan kasus virus Corona di negara tersebut.
https://kamumovie28.com/risen/

Komentar