Bantahan Menkes Rusia Saat Dunia Ragukan Vaksin Corona Pertama Sputnik V

Rusia menyetujui vaksin Corona pertama. Vaksin ini menuai kritik karena tahapan uji yang dilaluinya dinilai tidak lengkap.
Menjawab berbagai kritik, Rusia mengklaim vaksin yang dinamakan 'Sputnik V' disebut bekerja cukup efektif dan diklaim berhasil membentuk kekebalan yang stabil.

"Pagi ini, untuk pertama kalinya di dunia, vaksin untuk melawan COVID-19 telah didaftarkan," ujar Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagaimana dilaporkan AFP.

Hanya saja banyak ilmuwan yang skeptis terkait keputusan Rusia yang mendaftarkan vaksin karena belum masuk ke uji klinis tahap ketiga. Mereka menganggap pemberian vaksin secara massal bisa menimbulkan risiko yang cukup buruk ke depannya.

Meskipun diragukan banyak pakar, Menteri Kesehatan (Menkes) Rusia Mikhail Murashko mengatakan pada hari Rabu (12/8), tuduhan bahwa vaksin COVID-19 Rusia tidak aman adalah tidak berdasar dan didorong oleh persaingan. Demikian dilaporkan kantor berita Rusia, Interfax dikutip dari Reuters, Rabu (12/8/2020).

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Rusia memperhatikan tinjauan keamanan yang ketat pada vaksinnya. Pasalnya, Rusia baru melaporkan perkembangan fase I uji coba.

"Prakualifikasi vaksin apapun, mencakup tinjauan dan penilaian data keamanan dan kemanjuran diperlukan," kata Juru Bicara WHO Tarik Jasarevic dikutip dari Reuters.

"Kami sudah menghubungi otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung." lanjut Jasarevic.

Sementara itu, pejabat resmi Rusia menyebutkan, produksi vaksin dalam skala besar akan dimulai September mendatang. Sementara vaksinasi massal akan dilakukan mulai Oktober.

Apa Jadinya Jika Uji Klinis Vaksin Corona di Bandung Tak Sesuai Harapan?

- Uji klinis fase ketiga kandidat vaksin COVID-19 dari Sinovac telah dimulai di enam lokasi penyuntikan di Kota Bandung pada 11 Agustus 2020. Proses penyuntikan secara simbolis disaksikan Presiden Joko Widodo di RSP Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).
Namun, andaikata hasil uji klinis fase ketiga kandidat vaksin dari Tiongkok ini hasilnya tak sesuai harapan, apa yang akan dilakukan Biofarma?

Sekretaris Perusahaan Biofarma Bambang Heriyanto menyatakan, pihaknya seraya menunggu perkembangan vaksin COVID-19 buatan anak bangsa, Vaksin Merah Putih yang digarap Lembaga Biomolekuler Eijkman. Selain itu, Biofarma juga punya rencana untuk mengembangkan vaksin bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

"Sebetulnya kami punya rencana yang lain, yang itu namanya CEPI, itu kita juga punya rencana lain ini suatu koalisi pemerintah dengan swasta yang berdiri di Oslo Norwegia ini seperti lembaga yang mendorong kalau terjadi pandemi ini beberapa lembaga riset dibantu untuk segera mendapatkan kandidat vaksin," ujar Bambang, Rabu (12/8/2020).

"Nanti kalau sudah dapat, karena ini bentuknya bantuan, harus bisa diberikan ke negara lain untuk bisa mendapatkan akses. Nah kami minta juga tuh, submit proposal, ini masih dalam proses. Kalau memang berhasil, nanti kita mendapatkan seperti tadi lah, bentuknya kandidat vaksin untuk diproduksi di Indonesia," imbuhnya.

Sejauh ini, Biofarma masih intens berkomunikasi dengan Sinovac soal pengembangan kandidat vaksin ini. Keuntungannya bagi Indonesia, ujar Bambang, tak hanya soal percepatan penanganan wabah, namun juga ada transfer teknologi yang membuat Indonesia lebih siap menghadapi kondisi krisis serupa.

"Justru kita Indonesia ini beruntung karena kita mendapatkan akses vaksin, karena tidak semua negara di masa pandemi ini, tentu kan mereka akan mementingkan kepentingan negaranya masing-masing, nah Bio Farma kebetulan kita sudah pernah melakukan kerja sama sebelumnya dengan Sinovac, jadi tahun sebelumnya lah sebelum wabah ini terjadi kita sudah ada kerja sama," ujarnya.
https://kamumovie28.com/satu-suro-2/

Komentar

Postingan Populer