7 Syarat Pembukaan Sekolah dari WHO Agar Tak Terjadi Penularan Corona

 Kebijakan pemerintah Indonesia yang membuka aktivitas sekolah di zona kuning mendapat perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Alasannya karena hal ini disebut berisiko bisa memperparah kejadian penularan infeksi virus Corona COVID-19 di antara masyarakat.
"Keputusan membolehkan anak di zona kuning kembali sekolah berisiko memperparah penularan lokal, membebani fasilitas dan sumber daya tenaga medis, serta dalam jangka panjang malah memperlambat pemulihan ekonomi," tulis WHO seperti dikutip dari situs resminya pada Jumat (14/8/2020).

"Data menunjukkan bahwa anak-anak usia lima sampai 14 tahun berkontribusi sebanyak 6,8 persen dari total konfirmasi kasus COVID-19 di Indonesia. Jauh di atas rata-rata dunia yang angkanya 2,5 persen berdasarkan pantauan WHO. Angka ini bisa meningkat bila sesi belajar tatap muka dilanjutkan," lanjut laporan.

WHO bersama United Nations Children's Fund (UNICEF) mengungkap survei yang dilakukan tahun 2019 menemukan bahwa 43 persen sekolah di dunia tak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi yang aman. Oleh karena itu, bila pemerintah memang ingin membuka sekolah maka pastikan sudah ada strategi pencegahan virus.

"Ini harus jadi fokus strategi pemerintah bila ingin membuka dan mengoperasikan sekolah dengan aman selama pandemi COVID-19," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip dari situs resmi WHO pada Sabtu (15/7/2020).

Berikut 7 hal yang menurut WHO dan UNICEF harus terpenuhi bila ingin membuka sekolah:

1. Warga sekolah bisa rutin cuci tangan

2. Sekolah bisa rutin didisinfeksi

3. Warga sekolah menggunakan alat pelindung diri

4. Akses air bersih dan sabun untuk cuci tangan

5. Sanitasi memadai (toilet bersih)

6. Ada fasilitas dan protokol pengolahan sampah

7. Warga sekolah mampu terapkan jaga jarak

Bisakah Terapi Tradisional Gurah Obati Pasien Corona?

 Terapi gurah merupakan metode tradisional yang dilakukan orang-orang untuk mengeluarkan lendir dari dalam tubuh dengan cara meneteskan ramuan ke dalam lubang hidung. Terapi ini jadi salah satu penanganan yang diyakini dapat mengobati pasien sinus, pilek, dan batuk berdahak.
Terkait hal tersebut, di tengah pandemi ini sebagian orang penasaran apakah terapi gurah bisa dimanfaatkan untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Alasannya karena ada anggapan sesak napas pasien Corona akibat paru-paru yang terisi cairan dapat diatasi dengan teknik gurah.

"Nakes di Indonesia apa tidak terpikirkan gurah sebagai metode penyembuhan corona ya?" komentar satu pengguna Twitter.

Menanggapi pernyataan itu, spesialis paru dr Moh. Ramadhani Soeroso, SpP, menilai bahwa sampai saat ini belum ada studi yang menyatakan teknik gurah dapat menyembuhkan pasien Corona. dr Ramadhani menyatakan bahwa masalah penumpukan lendir pada paru-paru hanya bisa diatasi dengan penanganan medis.

"Begini ya, kalau teknik gurah itu mengeluarkan lendir pada hidung, mana bisa dia sampai ke paru-paru? Teknik ini nggak cocok untuk menangani Corona," ujar dr Ramadhani saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/08/2020).

dr Ramadhani menyampaikan bahwa virus Corona memang kebanyakan menyerang paru-paru, tapi ia diketahui juga bisa menginfeksi organ lain. Beberapa studi contohnya menemukan konsentrasi virus COVID-19 pada saluran pencernaan.

Karena alasan-alasan tersebut, gurah dinilai bukan penanganan efektif untuk mengobati pasien COVID-19.

"Sekarang gejala Corona nggak cuma demam, batuk, sesak nafas loh... Orang bisa mengeluh diare, sakit perut, atau ada gejala lainnya juga," pungkasnya.
https://kamumovie28.com/american-heist/

Komentar

Postingan Populer