WHO Ingatkan Pandemi Corona Makin Parah dan Sulit Dikendalikan, Mengapa?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan pandemi Corona semakin parah dan sulit dikendalikan. "Virus Corona masih menjadi musuh nomor satu," tegas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataannya Senin (13/7/2020) dikutip dari Daily Star.
Hal ini dikarenakan WHO menilai sebagian besar dunia tengah menghadapi pandemi Corona yang semakin buruk. Bahkan jumlah total kasus Corona meningkat dua kali lipat dalam enam minggu terakhir.
"Tetapi di sebagian besar dunia, virus tidak terkendali, semakin buruk," jelas Tedros.
"Pandemi masih meningkat. Jumlah total kasus telah dua kali lipat dalam enam minggu terakhir," lanjut Tedros.
Setidaknya virus Corona COVID-19 sudah menginfeksi lebih dari 12 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 500 ribu orang, menurut data yang dimuat Universitas John Hopkins. "Biarkan saya berterus terang, terlalu banyak negara menuju arah yang salah, virus tetap menjadi musuh publik nomor satu," kata Tedros.
"Jika dasar-dasar tidak diikuti, satu-satunya hal yang akan terjadi adalah pandemi Corona ini akan berlangsung, itu akan menjadi lebih buruk dan semakin buruk. Tapi itu tidak harus seperti ini," lanjut Tedros.
Baru-baru ini, tim WHO telah pergi ke China untuk menyelidiki asal-usul virus corona baru, yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan. Anggota tim dari WHO dikarantina terlebih dahulu sebelum mereka mulai bekerja dengan para ilmuwan China, demikian penjelasan kepala darurat WHO Mike Ryan.
Sementara itu, Tedros telah berulang kali membela tanggapan WHO dengan alasan bahwa badan kesehatan PBB memperingatkan negara-negara lebih awal tentang ancaman terkait pandemi. "Selama bertahun-tahun, banyak dari kita yang memperingatkan bahwa pandemi pernapasan yang mematikan tidak bisa dihindari," jelas Tedros.
"Tapi tetap saja, terlepas dari semua peringatan itu, dunia belum siap. Sistem kami belum siap. Komunitas kami belum siap. Rantai pasokan kami runtuh. Ini saatnya untuk refleksi yang sangat jujur," pungkasnya.
Ilmuwan Sebut Kekebalan Setelah Sembuh dari Corona Tak Bertahan Lama
Seseorang yang sembuh dari virus Corona COVID-19 diyakini akan membentuk kekebalan. Namun kekebalan tersebut hanya akan bertahan beberapa bulan.
Para ilmuwan Inggris menyebut respons antibodi pada seseorang yang terinfeksi virus Corona akan menurun setelah 20-30 hari gejala muncul. Antibodi adalah protein yang membantu tubuh melawan infeksi.
Dikutip dari CNN, studi ini melibatkan 65 pasien Corona yang dipantau selama 94 hari setelah menunjukkan gejala. Studi ini pun telah dirilis dalam laman medis medrxiv.org.
"Kami menunjukkan bahwa respons peningkatan IgM dan IgA menurun setelah 20-30 hari," tulis para peneliti dalam studi tersebut.
Ini dapat membuktikan orang yang pernah terkena COVID-19 kemungkinan besar bisa terinfeksi kembali. Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memperingatkan bahwa orang pernah terinfeksi Corona belum tentu kebal terhadap penyakit itu lagi.
Meski begitu, para peneliti mengaku studi ini masih memiliki keterbatasan. Sebab, belum diketahui apakah hasilnya akan sama jika yang diteliti adalah kelompok pasien yang lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
"Studi ini memiliki implikasi penting untuk mempertimbangkan perlindungan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2 dan daya tahan perlindungan pada vaksin," jelas para peneliti.
https://kamumovie28.com/cast/pili-groyne/
Komentar
Posting Komentar