Seperti Papa T Bob, 3 Artis Ini Juga Meninggal dengan Riwayat Diabetes
Kabar duka kembali menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Pengarang lagu anak-anak, Papa T Bob meninggal dunia pada Jumat (10/7/2020) di usia ke 59 tahun.
"Iya benar (meninggal)," kata anaknya, Vargo T Bob.
Papa T Bob sebelumnya dikabarkan memiliki riwayat penyakit diabetes. Kondisi kesehatannya kala itu disampaikan Tina Toon April lalu.
"Diabetes. Aku dikabarin sudah minggu-minggu ini. Sekitar Rabu atau Kamis gitu kan masuk rumah sakit pas hari Kamis," kata Tina Toon kepada detikcom, April silam.
Sederet artis pernah berjuang melawan penyakit yang sama. Ini daftar artis yang meninggal karena mengidap diabetes:
1. Pelawak Djudjuk Srimulat
Pelawak Djudjuk 'Srimulat' tutup usia pada Februari 2015. Ia diketahui sudah lama mengidap beragam penyakit.
"Beliau komplikasi penyakit diabetes dan kanker," ujar Polo, rekan Djudjuk di Srimulat.
Djudjuk meninggal di Rumah Sakit dr Sadjito, Yogyakarta. Istri Pak Teguh pendiri grup Srimulat itu meninggal di usia 67 tahun. Selama ini, pelawak wanita tersebut dikenal dengan peran-peran sebagai nyonya besar di pentas Srimulat.
2. Presenter Tata Dado
Presenter sekaligus komedian, Safei Salifan Dado atau yang biasa dikenal sebagai Tata Dado juga merupakan pengidap diabetes. Ia mengidap komplikasi diabetes.
Komplikasi diabetes yang diidapnya membuat ia terkena stroke pada tahun 2011. Tata Dado pun akhirnya tutup usia pada Maret 2013 lalu di usia 47 tahun.
3. Oon Project Pop
Tahun 2017 silam, kabar duka harus dihadapi para personil Project Pop. Muhammad Fachroni yang dikenal dengan panggilan nama Oon 'Project Pop' meninggal dunia pada Jumat (13/1/2017) pagi di kediamannya. Oon Project Pop meninggal dunia pada 44 tahun.
Ia meninggal karena komplikasi penyakit diabetes yang diidapnya. Oon diketahui mengidap penyakit diabetes sejak usia 28 tahun. Kondisi ini diperparah dengan adanya vonis komplikasi jantung, liver, ginjal, dan diabetes.
4 Istilah Virus Corona dan Artinya, Klaster hingga Airborne
Pemberitaan tentang virus Corona COVID-19 sering disertai istilah-istilah teknis. OTG misalnya, singkatan dari orang tanpa gejala, yang mendominasi klaster Sekolah Calon Perwira TNI AD di Jawa Barat. Eh, 'klaster' sendiri artinya apa ya?
Nah, bingung kan? Supaya mudah mengartikannya, detikcom merangkum beberapa istilah teknis seputar virus Corona yang muncul belakangan ini.
1. Klaster
Istilah virus corona yang sering digunakan adalah klaster atau cluster. Istilah ini memiliki arti satu kelompok dengan satu kejadian kesehatan yang sama.
Contoh istilah yang berkaitan adalah kluster Secapa AD, Bandung. Disebut demikian karena penularan Corona terjadi pada satu kelompok yang sama dan kasus saling berhubungan.
Pada awal-awal virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, tiga pasien pertama berasal dari sebuah klaster yang disebut klaster dansa.
2. OTG
Masih terkait klaster Secapa TNI AD, sebanyak 1.245 pasien di klaster tersebut merupakan OTG atau orang tanpa gejala. Apa sih yang dimaksud dengan OTG?
Orang tanpa gejala (OTG) adalah mereka yang terinfeksi dari virus Corona, tetapi tidak menunjukkan adanya gejala. Namun, OTG ini bisa menularkan virus Corona ke orang lain tanpa disadari.
"Dan kita tahu dari studi epidemiologi, mereka bisa menularkan kepada seseorang yang tidak terinfeksi bahkan ketika mereka tanpa gejala," kata Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular yang dikutip dari ABC.
3. Airborne
Baru-baru ini, 239 ilmuwan dari 32 negara mengklaim punya bukti virus Corona COVID-19 bisa menular lewat udara alias airborne. Penularan secara airborne berbeda dengan penularan melalui droplet atau percikan dahak saat batuk.
Dikutip dari healthline, airborne atau airborne disease adalah penyakit yang bisa menyebar lewat udara. Akibatnya seseorang bisa sakit hanya karena dia menghirup udara yang telah tercemar virus atau bakteri penyebab penyakit.
Airborne disease bisa menyebar saat ada pasien yang menunjukkan gejala infeksi seperti batuk, bersin, atau sekadar bicara. Gejala tersebut mengakibatkan cairan pada tenggorokan dan saluran pernapasan keluar dan melayang-layang, menyatu dengan udara.
Beberapa kelompok virus dan bakteri bisa menggantung di udara, terbawa angin, atau mendarat di orang lain. Patogen ini masuk ke dalam tubuh melalui udara yang terhirup atau menyentuh sembarang permukaan. Tangan yang digunakan menyentuh permukaan kemudian memegang mata, hidung, dan mulut tanpa dicuci lebih dulu.
Penyebaran kelompok airborne disease yang menyebar di udara cenderung sulit dikontrol. Karena itu, sangat penting mengetahui upaya pencegahan yang tepat sehingga tidak mudah terinfeksi.
Komentar
Posting Komentar