Ilmuwan Sebut Kekebalan Setelah Sembuh dari Corona Tak Bertahan Lama
Seseorang yang sembuh dari virus Corona COVID-19 diyakini akan membentuk kekebalan. Namun kekebalan tersebut hanya akan bertahan beberapa bulan.
Para ilmuwan Inggris menyebut respons antibodi pada seseorang yang terinfeksi virus Corona akan menurun setelah 20-30 hari gejala muncul. Antibodi adalah protein yang membantu tubuh melawan infeksi.
Dikutip dari CNN, studi ini melibatkan 65 pasien Corona yang dipantau selama 94 hari setelah menunjukkan gejala. Studi ini pun telah dirilis dalam laman medis medrxiv.org.
"Kami menunjukkan bahwa respons peningkatan IgM dan IgA menurun setelah 20-30 hari," tulis para peneliti dalam studi tersebut.
Ini dapat membuktikan orang yang pernah terkena COVID-19 kemungkinan besar bisa terinfeksi kembali. Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memperingatkan bahwa orang pernah terinfeksi Corona belum tentu kebal terhadap penyakit itu lagi.
Meski begitu, para peneliti mengaku studi ini masih memiliki keterbatasan. Sebab, belum diketahui apakah hasilnya akan sama jika yang diteliti adalah kelompok pasien yang lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
"Studi ini memiliki implikasi penting untuk mempertimbangkan perlindungan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2 dan daya tahan perlindungan pada vaksin," jelas para peneliti.
Main Game 22 Jam, Remaja Ini Kena Stroke dan Tangannya Lumpuh
Seorang remaja di China tak bisa menggerakkan tangan kirinya setelah berlebihan main game gara-gara lockdown. Dalam sehari, ia menghabiskan waktu 22 jam di depan komputer.
Xiaobin, remaja 15 tahun tersebut, dilarikan ke rumah sakit di kota Nanning setelah tiba-tiba pingsan. Ia didiagnosis mengalami stroke serebral.
Ahli saraf di rumah sakit, dr Li, mengatakan remaja ini mengalami stroke karena gaya hidup tidak sehat yakni main game berlebih dan sering begadang.
"Penyebabnya adalah tidur tidak teratur dan makan tidak teratur karena tidak sekolah. Orang tua juga terlalu membiarkan," katanya pada media lokal, dikutip dari Dailymail.
"Kurang nutrisi dan istirahat mengurangi aliran darah dan oksigen di otak dan memicu stroke serebral," lanjutnya.
Saat ini, Xiaobin tengah menjalani perawatan. Dokter mengaku sulit memperkirakan apakah remaja ini akan pulih sepenuhnya.
Toksoplasma pada Kucing Tingkatkan Risiko Keguguran?
Keguguran bisa terjadi karena berbagai faktor. Memelihara kucing bisa jadi salah satunya, jika kucingnya mengandung parasit toksoplasma.
Ketua umum II PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Tri Satya Putri Naipospos menjelaskan bahwa ibu hamil yang terdeteksi positif toxoplasmosis berisiko keguguran. Risiko lainnya adalah menularkan parasit tersebut ke bayi yang dikandungnya.
"Kalau sehat pun, dapat menimbulkan masalah pada kesehatan bayi kelak, seperti gangguan mata, otak, atau organ lainnya," jelasnya dalam seminar online zoonosis baru-baru ini.
Kabar baiknya, infeksi parasit ini bisa dicegah dengan cara meningkatkan imunitas tubuh. Jika memelihara kucing, maka harus dirawat dengan baik dan tidak dibiarkan berkeliaran sembarangan.
https://kamumovie28.com/cast/roxie-blum/
Komentar
Posting Komentar