Corona RI Tembus 72.347 Kasus, 9 Provinsi Ini Nihil Kasus Baru Per 10 Juli
Indonesia kembali mencatatkan penambahan kasus virus Corona COVID-19. Ada wilayah yang melaporkan banyak kasus baru, ada juga yang sama sekali tidak ada kasus.
Hingga Jumat (10/7/2020) sudah ada 72.347 kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia yang terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, ada 33.529 pasien yang sembuh sementara 3.469 lainnya meninggal dunia.
Berikut wilayah yang melaporkan tidak adanya penambahan kasus baru pada 10 Juli.
1. Aceh
2. Bangka Belitung
3. Jambi
4. Kalimantan Barat
5. Kalimantan Utara
6. Kepulauan Riau
7. Sulawesi Tengah
8. Riau
9. Nusa Tenggara Timur
Sedangkan wilayah di Indonesia yang melaporkan peningkatan jumlah kasus terbanyak:
1. DKI Jakarta = 260 kasus
2. Jawa Timur = 246 kasus
3. Sulawesi Utara = 134 kasus
4. Sulawesi Selatan = 132 kasus
5. Sumatera Utara = 112 kasus
6. Jawa Barat = 105 kasus
7. Jawa Tengah = 100 kasus
Kasus Baru Virus Corona Tambah 1.611 Per 10 Juli, Total 72.347
Jumlah kasus virus Corona COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Hingga Jumat (10/7/2020), akumulasi kasus positif bertambah 1.611 orang sehingga totalnya 72.347.
Sementara itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh telah mencapai 33.529 dan yang meninggal menjadi 3.469.
Berikut ini detail perkembangan kasus virus Corona di Indonesia pada Jumat (10/7/2020):
1. Jumlah kasus positif bertambah 1.611 menjadi 72.347.
2. Jumlah pasien sembuh bertambah 878 menjadi 33.529.
3. Jumlah pasien meninggal dunia bertambah 52 menjadi 3469.
Data tersebut merupakan akumulasi yang tercatat hingga pukul 12.00 WIB hari ini.
Sebelumnya pada Kamis (9/7/2020), jumlah akumulatif kasus positif corona di Indonesia berada di angka 70.736, dengan 32.651 di antaranya sembuh dan 3.417 meninggal.
Viral Sayembara 'Misuh' Internasional, Beneran Lomba Mengumpat? Ini Faktanya
Sebuah komunitas bahasa bernama Jawa Sastra mengadakan Sayembara Misuh Internasional 2020. Misuh sendiri adalah bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti umpatan.
Sayembara yang dimulai tanggal 8 Juli hingga 7 Agustus ini bertujuan mewadahi masyarakat yang ingin melampiaskan kekesalannya terhadap pandemi COVID-19. Kegiatan tersebut juga untuk memberi edukasi hal apa yang patut dan tidak patut diumpat.
Ketua komunitas Jawa Sastra, Yani Srikandi (24) menjelaskan, jika sayembara misuh sudah ada sejak tahun 2018. Dia pun menjelaskan bahwa terdapat alasan khusus kenapa pihaknya menggelar sayembara tersebut.
"Pertama karena kami menyadari bahwasanya misuh itu sebagai bentuk identitas budaya yang dianggap tabu. Kalau kita mengkaji kebudayaan, dalam tanda kutip kebudayaan yang adiluhung saja berarti kan kita belum melebur dengan kebudayaan yang benar-benar ada di dalam masyarakat," katanya saat dihubungi detikcom, Jumat (10/7/2020).
Selain itu, gelaran ini untuk mencari konsep kebudayaan Jawa yang seutuhnya. Di mana misuh adalah hal yang tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa.
"Kebanyakan kami (anggota Jawa Sastra) mahasiswa sastra Jawa, kami mencoba meliarkan konsep kebudayaan Jawa seutuhnya, ya ingin mencari seutuhnya. Salah satunya ketemu misuh ini juga salah satu wujud dari kebudayaan Jawa itu sendiri, identitas budaya Jawa," ucapnya.
Kendati demikian, kegiatan tersebut bukan untuk mengajak masyarakat melestarikan misuh atau mengumpat. Dia hanya ingin menyadarkan kepada masyarakat bahwa misuh itu sejak lama telah identik dengan segala lapisan masyarakat Jawa.
"Sebenarnya tanpa sadar kami itu ingin mengarahkan, ya kita mengakui bahwa misuh ada. Karwna mau setinggi-tingginya, bahkan di lingkungan Keraton dan lingkungan adiluhung, priyayi pasti ada juga misuh dan itu harus diakui dulu," ucapnya.
"Karena banyak yang menampik dan banyak yang munafik, ya mungkin itu masalah lain lah seperti politik budaya, tapi harus disadari dulu," imbuh Yani.
https://kamumovie28.com/bodom/
Komentar
Posting Komentar