Sendiri Pakai Motor Menuju dan Menginap di Desa Wae Rebo Flores (2)
Kemudian saya mulai mencari objek foto. Banyak sudut-sudut desa yang instagramable. Sebut saja bentuk rumah Mbaru Niang, koridor dan ruang antara tujuh rumah tersebut, aktivitas warga dan para ibu-ibu yang sedang menyiapkan makanan, serta bapak-bapak yang sedang menjemur dan memilah kopi. Semuanya menarik.
Sore itu, diawali beberapa wisatawan mancanegara, akhirnya para tamu dan penduduk lokal bergabung bermain bola voli di lapangan utama. Aktivitas ini membuat suasana desa menjadi lebih hangat di tengah rintik hujan dan kabut tebal yang turun.
Sekitar pukul 18.30, tuan rumah mengundang dan memberitahu kami untuk memulai makan malam. Pengelola membagi kami ke dalam kelompok-kelompok sesuai grup kedatangan. Masing-masing kelompok membentuk lingkaran mengelilingi nasi dan lauk-pauk yang tersedia. Karena saya datang sendiri, maka saya digabung dengan grup keluarga asal Surabaya yang saya dahului tadi di perjalanan menuju ke sini.
Begitulah awal pembukaan obrolan kami dengan keluarga Bapak Gunawan ketika hendak memulai makan malam. Selanjutnya saya biarkan Pak Gunawan bercerita soal Sabang dan pengalamannya selama delapan bulan menjadi relawan ketika Aceh dilanda tsunami. Sedangkan saya tetap mengunyah hidangan dengan lahap. Rombongan Pak Gunawan terdiri dari dua keluarga. Orang tua dan anak-anaknya dengan total delapan orang. Selama makan pun, kami banyak bertukar cerita tentang lokasi-lokasi di Indonesia.
Semakin malam, saya pun tidak tahan dengan rasa kantuk yang saya dera. Saya memilih tidur cepat untuk pemulihan badan menjelang perjalanan jauh besok hari. Beberapa kelompok wisman ada yang melanjutkan aktifitas mereka dengan bermain kartu. Sebagai informasi, listrik di lokasi ini menyala hanya sampai sekitar pukul 22.00. Setelah jam tersebut, rumah menjadi gelap gulita. Sebaiknya kita membawa senter dan head lamp kalau berkunjung ke sini. Sangat perlu senter kalau pada saat malam kita ingin ke toilet.
Pada pukul 06.00 pagi, saya keluar rumah dan menaiki bukit di belakang desa. Di bukit ini ada bangunan dan viewing deck. Lokasi ini berada di ketinggian sekitar 30 meter di atas desa. Tempat ini menjadi lokasi terbaik untuk mengambil foto desa dan seluruh tujuh bangunan Mbaru Niang. Saya pun membuka tripod dan membuat video timelapse. Cuaca pagi itu adalah berawan. Kabut tidak kunjung pergi.
Misi memfoto desa ini pada saat matahari terbit tidak tercapai. Saya pun kembali masuk ke rumah tamu untuk bersiap pulang. Selesai sarapan dan berkemas, saya pun berpamitan dengan para mama dan grup keluarga dari Surabaya. Saya bersiap berjalan turun menuju Desa Denge. Tak disangka, kabut berangsur hilang sekitar pukul 08.00. Cahaya matahari mulai menyinari Desa Wae Rebo ini. Saya pun tidak melewatkan suasana. Segera saya kembali naik dan mengambil beberapa foto desa dengan matahari paginya.
Perjalanan ke Desa Wae Rebo tidak semudah yang dikira. Kalau cuaca sedang tidak mendukung, kita perlu persiapan yang lebih banyak. Apalagi desa ini terletak di atas perbukitan. Tentunya suhu udara akan berkurang seiring dengan bertambahnya ketinggian.
Komentar
Posting Komentar