Turis Indonesia Terus Dominasi Wisata Medis di Melaka
Melaka di Malaysia adalah kota bersejarah, namun lebih dikenal berkat wisata medis. Turis Indonesia masih mendominasi wisata medis di sana.
Melaka dikenal sebagai kota bersejarah di Malaysia. Di sana tersimpan jejak peninggalan Portugis, Belanda hingga Inggris. Ada juga cerita Hang Tuah, Hang Jebat, dan Hang-hang lain yang akrab di telinga kita.
Tapi bukan hanya sejarah yang menonjol, Melaka kini bermetamorfosa menjadi destinasi wisata medis kelas dunia. Apa itu wisata medis?
"Berobat sambil menikmati destinasi," tutur Executive Marketing Mahkota Medical Center, Norhayati Ahmad, kepada rombongan Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) di kediaman Ketua Menteri Malaka (setingkat gubernur) di Melaka, pada pekan lalu.
Mahkota Medical Centre Hospital jadi tujuan utama turis yang mau berobat. RS terbesar di Selatan Semenanjung Malaysia ini memiliki 279 tempat tidur, memiliki 98 dokter spesialis, dan dokter umum penuh waktu.
Laboratorium Mahkota terakreditasi Medical Testing ISO. Pasien hanya perlu waktu 2 jam untuk mendapatkan hasil pemeriksaan. Selain urusan medis, Mahkota juga memberi servis tambahan seperti transportasi, hotel, bell boy, perpanjangan visa, antar jemput dari dan ke bandara dan pelabuhan, bagasi dan lain-lain.
Tahun 2017, sebanyak 661.512 orang berobat ke RS Mahkota. Naik 7,3 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 616.622 orang. Dari angka tersebut, tercatat sebanyak 108.179 orang berobat sambil berwisata. Jumlah ini naik 5,4 persen dibanding tahun 2016.
"Pasien kami terbanyak dari Indonesia. Dalam 1 bulan, ada 7.000 orang Indonesia berobat di rumah sakit kami," urai Norhayati. Untuk memudahkan pelayanan, Mahkota punya kantor perwakilan di berbagai kota di Indonesia.
Umumnya, pasien berasal dari Kepulauan Riau. Itu karena letak Kepri dekat dengan Melaka. Tapi ada juga dari Jakarta, Jawa, dan Sulawesi. Mayoritas menjalani pengobatan penyakit jantung, kanker, dan ortopedi.
Melaka bisa ditempuh dengan perjalanan 2 jam lewat darat dari Kuala Lumpur. Dari Bandara KLIA2, bisa pakai taksi atau bis StarMart. Dari Batam atau Kepulauan Riau, bisa naik shuttle van dari Stulang Laut via pelabuhan.
Meski keren dalam urusan kesehatan, bukan berarti yang datang orang-orang sakit. Banyak turis berkunjung menikmati tempat wisata kota tua, gedung merah yang dibangun pada abad ke-18 hingga ziarah ke makam Hang Tuah yang ceritanya sangat populer di Indonesia.
Ini Komentar Orang Jepang Tentang Indonesia
Indonesia memang mempesona. Banyak turis yang datang dan jatuh cinta dengan Nusantara.
Fumio Ito adalah seorang pemandu turis di Jepang. Sebelumnya, Ito-san adalah seorang ekspatriat atau orang asing yang bekerja di Indonesia.
Ito-san sempat tinggal di Indonesia selama 10,5 tahun. Selama itu, Ito-san berkeliling 31 provinsi di Indonesia. Indonesia pun memiliki tempat khusus di hatinya.
"Makanan yang bikin kangen itu sop konro dan sop buntut. Saya suka sop," ujar Ito-san kepada detikTravel pekan lalu saat berjumpa di Hiroshima, Jepang.
Selain jatuh cinta dengan kuliner Indonesia, Ito-san juga suka wisata Indonesia. Buatnya Lombok adalah yang paling cantik.
"Tahun 2001 ke Gili, Lombok. Indonesia, nature-nya potensial," tutur Ito-san.
Di mata Ito-san, pariwisata Indonesia sangatlah potensial. Namun sayang, transportasi dari bandara menuju destinasi tujuan dirasa masih kurang maksimal. Ia pun bercerita tentang Lombok di kala itu.
"Pelabuhannya masih belum ada, kalau turun atau naik perahu harus masuk ke laut," kenang Ito-san.
Sekarang perkembangan pariwisata Indonesia semakin meningkat. Keterbatasan akses memang masih dirasakan dibeberapa tempat namun sudah membaik.
"Hal pertama yang ingin dilakukan jika kembali ke Jakarta itu pijat. Di Jakarta pijat murah dan enak, kalau di Jepang sudah 5 kali lipat harganya," tutur Ito-san.
Komentar
Posting Komentar