Pengalaman Unik Belanja di Pasar Terapung Banjarmasin (2)

Sungai Martapura dari yang kita amati, rupanya tidak sekadar menjadi sarana transportasi namun juga menjadi tempat untuk mandi, mencuci pakaian, usaha perikanan keramba jaring apung, dan aktifitas lainnya seperti bermain kano.

Itu terlihat saat kami melintas di depan atau belakang rumah-rumah yang berada di tepi sungai itu. Bagi penduduk di tepian sungai, melihat perahu melintas sudah terbiasa, terbukti saat melintas mereka tidak terpengaruh, mereka tetap melakukan aktifitas mandi, mencuci, dan kegiatan lainnya seperti biasanya. Ada sesekali di antara mereka melambaikan tangan kepada penumpang perahu wisatawan.

Dalam perjalanan itu sesekali perahu yang kami tumpangi simpangan dengan perahu yang lain namun pagi itu kami lebih sering searah dengan perahu-perahu lain yang sepertinya mempunyai tujuan sama yakni pasar apung Lok Baintan.

Simpangan atau gerak searah dengan perahu yang lain membuat gelombang sungai menjadi lebih kuat. Deburan air gelombang yang tertekan berat perahu terkadang muncrat ke dalam perahu. Di sinilah petualangan itu terasa.

Sepanjang perjalanan, di sisi yang lain, selain perumahan yang padat penduduk, juga terlihat masih banyak lahan-lahan kosong. Terlihat ada beberapa pohon sawit yang terendam oleh arus pasang sungai. Pemandangan yang demikian kita jumpai setelah perahu semakin menjauh dari keramaian Kota Banjarmasin.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih, akhirnya pasar apung itu terlihat. Mendekati pasar tradisional itu perahu yang kami tumpangi mulai memperlambat gerak hingga akhirnya tak terasa kita mulai didekati bahkan ditempel oleh jukung atau sampan para pedagang.

Mereka menawarkan berbagai dagangannya seperti makanan yang terdiri nasi, sayuran masak, jajanan pasar, sayur-sayuran, pisang, jeruk, souvenir, kopi, kerajinan tangan seperti tas rotan, dan hasil kebun lainnya. Seperti yang kita jumpai di pasar-pasar tradisional di darat.

Di pasar apung itu seseorang mengatakan ada sekitar 150 sampai 200 pedagang. Jadi ada sekitar 150 sampai 200 jukung. Jumlah itu membuat separuh sungai terasa padat sehingga antara jukung dengan perahu pembeli dan wisatawan saling berimpit atau bersenggolan.

Tak heran bila para pedagang itu sering mendorongkan tangan atau dayungnya untuk mencari jalan atau menghindari jepitan perahu. Pedagang pasar apung Lok Baintan menurut salah seorang penduduk di sana, jumlahnya menurun dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dulu dikatakan sungai itu penuh dengan jukung-jukung pedagang. Tidak hanya separuh sungai seperti saat ini namun penuh hingga tepian sebelah. Hal demikian sampai ada petugas yang mengatur pergerakan perdagangan di atas sungai yang berwarna coklat itu agar tidak menimbulkan kemacetan.

Menurunnya pedagang di pasar apung itu menurut penduduk tadi karena tidak adanya regenerasi. Anak-anak para pedagang itu setelah lulus dari sekolah tidak meneruskan pekerjaan orangtuanya (ibu) mereka. Anak-anak lebih memilih bekerja di tempat lain.

Pedagang di pasa apung itu mayoritas adalah para ibu-ibu yang sudah berumur. seorang ibu yang bernama Diana mengaku berdagang di pasar apung sejak 7 tahun yang lalu. Di atas jukung dari ibu empat anak itu terlihat ada berbagai jenis jajanan pasar, nasi, lauk, kopi, dan sayuran matang.

Ia selalu mendekati perahu-perahu pembeli dan wisatawan sambil menawarkan dagangannya. Diana mengaku berdagang di tempat itu mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Dirinya bersyukur atas usaha yang dijalankan itu. “Sehari dapat untung bersih Rp100.000,  ungkapnya.

Pada Diana ini saya membeli secangkir plastik kopi. Sama seperti Diana juga dikatakan ibu bernama Mastorani. Dirinya berdagang di pasar apung sudah 10 tahun. Di atas jukung-nya ada dagangan seperti ikan, jeruk, bunga, dan makanan. Seperti Diana, Mastorani mempunyai empat anak. Dikatakan suaminya telah meninggal.

Pedagang yang lain, Hana, mengatakan apa yang dijual di pasar apung itu seperti sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan hasil kebun yang mereka miliki. Menurutnya, di sini mayoritas yang berdagang adalah ibu-ibu karena suaminya (bapak) pergi ke kebun.

"Mereka memetik hasil kebun. Jadi kita bagi tugas," tambahnya. Hana di sungai itu menjual ikan, jeruk, dan tas rotan. Sudah sepuluh tahun dirinya menekuni pekerjaan itu.

Komentar

Postingan Populer