Pengalaman Unik Belanja di Pasar Terapung Banjarmasin (3)
Soal pedagang yang sudah puluhan tahun menggali rejeki di pasar apung, bisa kita jumpai pada sosok Hajjah Arbaina. "Saya sudah 30 tahun berdagang di sini," ujar perempuan yang menjual dagangan dari kebunnya sendiri itu.
Ibu dari empat anak itu mengatakan suaminya sebagai petani dan kerja di sawah. Perempuan yang bertempat tinggal 1 km dari pasar itu mengaku mendapat keuntungan sehari Rp300.000.
Pasar apung itu menurut sebuah catatan sudah ada sejak Kesultanan Banjar berdiri. Pada masa itu bisa jadi pasar yang ada tak sekadar untuk proses jual beli namun juga barter.
"Beberapa tahun yang lalu masih terjadi barter," ujar salah seorang di sana. "Dibarter, misalnya antara beras dan hasil kebun," papar pria yang bekerja di salah satu bank milik pemerintah itu.
Geliat aktivitas pasar apung itu terasa padat. Cuaca panas dan hujan tak menghalangi mereka untuk mencari rejeki. "Meski hujan kami tetap jualan, pakai tudung," ujarnya.
Bila di saat terang di mana terasa sinar matahari menyengat maka untuk menghadapi yang demikian, para pedagang itu mengakali dengan mengoleskan pupur beras pada wajahnya.
Pupur beras itu diyakini bisa membuat wajah menjadi dingin. Hal demikianlah yang membuat kita banyak jumpai para pedagang yang berpupur putih. "Biar tidak panas," ujar salah satu pedagang.
Sama seperti di terminal atau pusat keramaian lainnya, di sela-sela jukung-jukung pedagang dan perahu pembeli dan wisatawan, kita temukan sebuah jukung yang dikemudikan oleh dua orang yang memakai sarung dan peci. Di tengah jukung dua orang itu tertulis permohonan bantuan untuk pembangunan masjid. Melihat yang demikian, para wisatawan ada yang beramal.
Meski di tengah gempuran berdirinya pasar permanen dan mall di Kota Banjarmasin dan terbukanya jalur darat, jalan, namun pasar apung Lok Baintan masih tetap ada. Keberadaannya sekarang menjadi tujuan wisata dari dalam dan luar negeri. Saat kami ke sana, ada beberapa perahu lain yang terisi puluhan penumpang.
Mereka ke sana untuk melihat langsung pasar apung itu. Salah seorang wisatawan, Siswanto, mengatakan dirinya senang bisa melihat pasar apung. Dikatakan masih alami. Apa yang dikatakan itu juga disampaikan Syahrial, wisatawan yang lain. “Senang bisa ke sana, tuturnya.
Dalam bepergian saya sering menggunakan fasilitas yang ada di www.tiket.com, mengapa memilih tiket.com? karena aplikasi teknologi yang ada mudah dipahami, semua layanan yang dibutuhkan ada baik itu pesawat, hotel, maupun layanan perjalanan lainnya, Dan yang pasti harganya lebih ok dibanding dengan portal perjalanan lainnya. #semuaadatiketnya
Dulu dikatakan sungai itu penuh dengan jukung-jukung pedagang. Tidak hanya separuh sungai seperti saat ini namun penuh hingga tepian sebelah. Hal demikian sampai ada petugas yang mengatur pergerakan perdagangan di atas sungai yang berwarna coklat itu agar tidak menimbulkan kemacetan.
Menurunnya pedagang di pasar apung itu menurut penduduk tadi karena tidak adanya regenerasi. Anak-anak para pedagang itu setelah lulus dari sekolah tidak meneruskan pekerjaan orangtuanya (ibu) mereka. Anak-anak lebih memilih bekerja di tempat lain.
Pedagang di pasa apung itu mayoritas adalah para ibu-ibu yang sudah berumur. seorang ibu yang bernama Diana mengaku berdagang di pasar apung sejak 7 tahun yang lalu. Di atas jukung dari ibu empat anak itu terlihat ada berbagai jenis jajanan pasar, nasi, lauk, kopi, dan sayuran matang.
Ia selalu mendekati perahu-perahu pembeli dan wisatawan sambil menawarkan dagangannya. Diana mengaku berdagang di tempat itu mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Dirinya bersyukur atas usaha yang dijalankan itu. “Sehari dapat untung bersih Rp100.000, ungkapnya.
Pada Diana ini saya membeli secangkir plastik kopi. Sama seperti Diana juga dikatakan ibu bernama Mastorani. Dirinya berdagang di pasar apung sudah 10 tahun. Di atas jukung-nya ada dagangan seperti ikan, jeruk, bunga, dan makanan. Seperti Diana, Mastorani mempunyai empat anak. Dikatakan suaminya telah meninggal.
Pedagang yang lain, Hana, mengatakan apa yang dijual di pasar apung itu seperti sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan hasil kebun yang mereka miliki. Menurutnya, di sini mayoritas yang berdagang adalah ibu-ibu karena suaminya (bapak) pergi ke kebun.
"Mereka memetik hasil kebun. Jadi kita bagi tugas," tambahnya. Hana di sungai itu menjual ikan, jeruk, dan tas rotan. Sudah sepuluh tahun dirinya menekuni pekerjaan itu.
Komentar
Posting Komentar