Pengalaman Unik Belanja di Pasar Terapung Banjarmasin

Banjarmasin punya pasar terapung yang unik. Pengalaman belanja di sini sungguh tak terlupakan.

Selepas pukul 05.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), beberapa orang yang menginap di sebuah hotel di tepi Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu mulai keluar dari kamarnya.

Mereka rela meninggalkan mimpi dan dinginnya subuh demi ingin mengikuti wisata ke pasar apung Lok Baintan. Mereka harus bangun subuh sebab pasar yang berada di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, itu buka hanya pada kisaran pukul 06.00 hingga 10.00 WITA.

Meski wisata yang diadakan hotel itu bagian dari pelayanan tamu namun pada hari itu, awal-awal November 2017, hanya diminati sekitar 8 orang; 6 wisatawan dari dalam negeri dan 2 wisatawan dari China. Di antara tamu hotel yang lain mungkin sudah pernah ke Lok Baintan, mungkin juga di antara mereka tidak suka berpertualang.

Setelah semua peminat wisata apung itu terdata sesuai dengan catatan pihak hotel, mereka diantar ke dermaga yang tak jauh dari Jembatan Pangeran Antasari. Di dermaga kecil yang tersusun dari kayu berwarna hitam itu sudah menunggu Fahmi, seorang pria berumur sekitar 50 tahun yang mengemudikan perahu klotok. Pria asli Banjarmasin itu sambil memegang perahu, mempersilahkan tamu untuk masuk ke dalam.

Perahu yang memiliki panjang 13 meter dan lebar 2 meter itu mampu menampung 20 penumpang. Namun karena yang naik sekitar 10 orang, 8 orang tamu, ditambah Fahmi dan petugas pengamanan hotel maka jumlah totalnya menjadi 10 orang.

"Tamunya dari mana-mana, dari dalam negeri, ada pula yang dari luar negeri," ujar pria yang sudah 27 tahun mengemudikan perahu itu.

Setelah semua penumpang berada di angkutan sungai yang dicat warna-warni itu, Fahmi pun segera mendorongkan sebuah balok ke tangga dermaga. Tujuannya agar perahu agak menengah mencari tempat yang lebih dalam.

Ketika perahu sudah bergeser dari dermaga sejauh 2 meter, ia segera menyalakan mesin. Mesin yang berada di perut perahu itu pun menyala dan terdengar bunyi: tok, tok, tok.  

Fahmi segera memutar haluan, perahu itu mulai bergerak namun ketika berada di tengah sungai, tiba-tiba ia menepikan perahunya ke tepian sebelah. Sepertinya ada gangguan pada mesin. Kayu yang menutup mesin itu pun dibongkar.

Diotak-atiknya mesin yang ada. Selang selama 5 menitan, perbaikan yang dilakukan membuahkan hasil. Alat penggerak perahu itu dinyalakan kembali dan perlahan namun pasti gerak lajunya semakin bertambah hingga akhirnya perahu melaju kencang.

Dikatakan oleh Fahmi untuk menuju ke pasar apung Lok Baintan dari dermaga yang berada di samping Jembatan Pangeran Antasari itu ditempuh kisaran 1 jam hingga 1,5 jam. Selama menyusuri Sungai Martapura itu, perahu itu dikangkangi beberapa jembatan yang menjadi penghubung lalu lintas di Kota Banjarmasin. Ketika melewati Jembatan Pangeran Antasari, terdengar cuitan ratusan kelelawar.

Sepanjang lintasan sungai, kita amati tepian Sungai Martapura padat dengan perumahan penduduk. Rumah-rumah itu masih banyak yang terbuat dari kayu-kayu sehingga menampilkan pemandangan yang alami. Di antara rumah-rumah itu, sering kita lihat bangunan masjid, baik berukuran kecil maupun besar dengan menara yang menjulang tinggi.

Komentar

Postingan Populer