Kenalkan, Ini Tambrauw Saingan Raja Ampat

 Kabupaten Tambrau di Papua Barat mulai membuka diri untuk pariwisata. Punya banyak potensi, Tambrauw tak kalah cantik dari Raja Ampat.

Tambrauw di Papua Barat adalah salah satu kabupaten terluas di Papua Barat. Papua Barat sendiri terdiri dari 29 distrik dengan 216 kampung dan 32 ribu jiwa penduduk.

Baru dibuka menjadi kabupaten selama 10 tahun lalu, Tambrauw kini ingin maju lewat jalur pariwisata. Pembangunan infrastruktur pun terus dibangun guna memperluas akses bagi wisatawan.

Dulu pusat pemerintahan berada di Sorong, kemudian di pindah ke Tambrauw guna memeratakan pembangunan. Tambrauw yang gelap tanpa listrik dan air, perlahan mulai bersinar.

"Kemenpar punya 3 agenda press tour, yang pertama di tahun 2019 adalah Tambrauw. Bukan saya tidak paham betapa jauhnya Tambrauw, tapi karena komitmen bupatinya. Pariwisata 50 persen maju karena komitmen kepala daerah," ujar Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata baru-baru ini.

Lantas apa saja yang disajikan Tambrauw untuk wisatawan?

"Surga dimulai dari Tambrauw. Tambrauw tidak kalah dengan raja ampat, ada banyak hal yang di tawarkan. Mulai dari budaya sampai alam," ujar Gabriel Asem, Bupati Tambrauw, Selasa (5/3/2019) dalam sambutan press tour Tambrauw di pantai Kampung Sauorian, Tambrauw.

Tambrauw memang harta karun di Tanah Papua. Pantai-pantai cantik ala Indonesia timur sudah tak perlu diragukan lagi. Belum lagi wisata burung cendrawasih yang langka.

"Yang cuma ada di Tambrauw itu sisa-sisa Perang Dunia II, dulu di sini adalah pangkalan militer Amerika," ujar Gabriel.

Buat Tambrauw, pariwisata adalah soal harga diri. Bupati Gabriel mengibaratkan alam sebagai ibu yang harus di jaga. Sehingga ke depannya, pariwisata juga memberikan hasil baik kepada masyarakat Tambrauw. 

Warga Suku Tengger Bersih-bersih Pura Sebelum Nyepi

Suku Tengger di Probolinggo melakukan berbagai persiapan Catur Brata Nyepi Tahun Saka 1941. Salah satunya aksi bersih-bersih pura.

Berbagai persiapan dilakukan Umat Hindu, Suku Tengger, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo sebelum melakukan pelaksanaan Catur Brata Nyepi Tahun Saka 1941. Salah satunya melakukan aksi bersih-bersih di Pura Luhur Poten, yang berlokasi di areal Padang Pasir, Kaldera, Gunung Bromo. Warga Suku Tengger yang tinggal di sekitar pura, bersama-sama membersihkan tempat peribadatan Umat Hindu tersebut.

Salah seorang warga Tengger, Sujono mengatakan, aksi bersih sebelum nyepi sebagai bentuk penyambutan pelaksanaan Nyepi. Selain itu, Umat Hindu bersyukur kepada Sang Hyang Widiwasa, lantaran bisa dipertemukan kembali dengan Nyepi.

"Bersih-bersih merupakan ungkapan syukur Umat Hindu, menyambut Pelaksanaan Nyepi. Serta bagian penyucihan diri dan tempat peribadatan Umar Hindu," terangnya, Rabu (06/03/19).

Dalam aksi bersih-bersih sendiri, warga menggunakan cangkul, sapu lidi dan peralatan kebersihan lainnya untuk mensucikan Pura Luhur Poten, yang menjadi pusat peribadatan Umat Hindu warga lereng Bromo.

Sementara Camat Sukapura, Yulius Christian menyampaikan di puncak Pelaksanaan Nyepi, diterjunkan sekitar 100 pasukan Jaga baya, yang berasal dari petugas Linmas Kecamatan Sukapura.

"Para pasukan Jaga Baya ini, nantinya akan ditempatkan sesuai desanya masing-masing yang melaksanakan Nyepi. Tugasnya yakni menjaga suasana Nyepi, agar tetap berlangsung khidmat," jelasnya.

Komentar

Postingan Populer